Adat Istiadat

Upacara Baritan, Bentuk Syukur Terhadap Yang Maha Kuasa

Di dalam tradisi masyarakat Betawi di bulan Maulud (bulan di penanggalan hijriah) ada perayaan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut juga sebagai Maulid Nabi. Tapi selain itu, di bulan Maulud ini di beberapa kalangan masyarakat Betawi khususnya yang tinggal di Kramat Aris, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung Jakarta Timur.

Ada upacara yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat setempat bernama upacara Baritan atau babarit. Kata Baritan berarti sedekah bumi. Upacara ini dilaksanakan sebagai rangkaian pesta Mauludan. Upacara Baritan merupakan salah satu tradisi masyarakat Betawi keturunan Kramat Aris yang mendiami wilayah tersebut.
Lalu siapakah Kramat Aris itu?

Kramat Aris merupakan murid dari Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah atau disebut juga Panembangan Cirebon. Kramat Aris bernama asli Aris Wisesa yang kemudian dikenal sebagai Pak Aris. Pak Aris adalah seseorang yang dituakan oleh masyarakat Betawi di wilayah Setu.

Semasa hidupnya, dia dipercaya masyarakat sebagai orang yang dapat “menolong” sesama manusia. Oleh karena itu, setelah dia meninggal, makamnya dikeramatkan oleh mereka dan diberi nama Kramat Aris.

Ada versi cerita lainnya mengisahkan lokasi Kramat Aris merupakan petilasan atau tempat bersinggah seseorang bernama Aris Wisesa, yang kemudian menghilang. Ada tiga nama keturunan dia, yang kemudian menjadi pengurus atau juru kunci Kramat Aris, yakni Aki Atma Winata (Ki  Nata), Aki Murtani (Ki Tani), dan Aki Ateng.

Kembali lagi berbicara soal upacara Baritan, upacara ini dilaksanakan setiap tahun yang  merupakan pesan leluhur masyarakat Betawi di Kampung Setu, atau keturunan Aris Wisesa. Oleh karena itu, upacara tersebut merupakan salah satu tradisi masyarakat Betawi keturunan  Aris Wisesa, baik yang ada di dalam maupun di luar wilayah Kampung Setu. Sekarang, ada juga warga masyarakat bukan keturunan Aris Wisesa yang mengikuti upacara tersebut, di antaranya mereka yang biasa berziarah ke Kramat Aris.

Upacara baritan pada mulanya bertujuan untuk menghormati roh nenek moyang sebagai pelindung kampung. Dalam  perkembangannya, upacara tersebut juga menjadi sarana penyampaian ucapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas berkah yang dilimpahkan, terutama menyangkut hasil pertanian atau hasil bumi.

Upacara baritan diselenggarakan setiap tahun, tepatnya pada bulan Maulud. Pemilihan tanggal pelaksanaan upacara tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan ada syaratnya. Yang pertama, upacara baritan harus diselenggarakan setelah pelaksanaan upacara Mauludan di Cirebon; Yang kedua, hari pelaksanaan upacara baritan harus jatuh pada Jumat.

Meskipun demikian, tidak ada ketentuan yang mengatur jaraknya hari pelaksanaan upacara baritan dari hari penyelenggaraan Mauludan di Cirebon. Yang pasti, waktunya masih tetap berada pada bulan Maulud dan harus jatuh pada hari Jumat. Ketika tanggal yang didapat ternyata bukan jatuh pada hari Jumat, dapat dipastikan harus diundur ke tanggal lainnya yang bertepatan dengan Jumat. Orang yang bertugas menentukan tanggal pelaksanaan upacara baritan biasanya juru kunci Kramat Aris.

Versi Lain Perayaan Upacara Baritan
Di beberapa kampung Betawi, upacara Baritan ini diekspresikan ke dalam berbagai bentuk persembahan berupa makanan, minuman, buah-buahan, hiburan, bancakan atau tahlilan dan menanam empat kepala kerbau (saat ini harga kerbau yang mahal sehingga digantikan dengan kepala kambing) di empat penjuru seperti yang dilaksanakan di Kampung Pondok Rangon.

Selain dilaksanakan di Bulan Maulud, ada pula yang melaksanakannnya setelah panen raya pada Hari Raya Agung, tepatnya tanggal 10 bulan Haji. Ada juga di beberapa kampung diselenggarakan pada bulan Sya’ban atau bulan Rowah menjelang datangnya bulan puasa. Upacara ini dipusatkan di lokasi Keramat Ganceng dan dipimpin oleh kuncen (juru kunci) Keramat Ganceng.

Pelaksanaan ritus ini, terdiri atas empat tahap. Pertama persiapan (menghitung berapa kebutuhan biaya , jumlah undangan dan sebagainya). Tahap kedua adalah pelaksanaan ritualnya yang dipusatkan di makam Keramat Ganceng yang diisi dengan tahlilan dan makan bersama-sama seluruh peserta upacara.

Biasanya pada siang sebelum upacara, seluruh peserta upacara mengantarkan sajen berupa bermacam-macam makanan, minuman, rujak, risol, kue basah, kue kering, aneka buah-buahan, dan semua yang merupakan hasil panen masyarakat setempat. Tahap ketiga adalah Ngarak Kepala Kerbau atau Kambing untuk ditanam di empat penjuru mata angin, termasuk menanam di Keramat Bambu Ampel. Tahap keempat hiburan berupa nanggap kliningan kanji, ibing sawer, wayang kulit dan layar tancep.

Bujaka - Aplikasi Budaya Jakarta

DINAS KEBUDAYAAN PROVINSI DKI JAKARTA
Jalan Gatot Subroto Kav. 40-41 Lt. 11 dan 12
Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi
Jakarta Selatan
DKI Jakarta, 12950
(021) 252-3164
dinaskebudayaandki@gmail.com