Topeng Blantek, Pertunjukkan Teater Tanpa Teks

 Kebudayaan Betawi memiliki corak dan kesenian yang beragam. Sebab Betawi merupakan suku yang terdiri dari masyarakat yang berasal dari perkawinan antar suku bangsa. Orang Betawi dikenal memiliki dorongan kreativitas tinggi yang tercermin dalam salah satu kesenian tradisionalnya, yakni Topeng Blantek'.
 
Di zaman dulu, tari topeng blantek seringkali dibawakan pada malam hari, untuk menghibur kalangan rakyat dan para koloni Belanda. Ketika itu, belum banyak pertunjukan seni tari seperti halnya tari Jaipong, Namun, pada pertunjukan topeng blantek, terkadang ditampilkan juga kesenian tari-tarian. Seni tari yang paling sering dibawakan ialah tari topeng dan tari yapong. Pertunjukan topeng Blantek juga selalu diiringi oleh beberapa alat musik. Ciri khasnya adalah alat musik rebana biang khas Betawi.
 
Asal nama blantek berasal dari kata “bleng teks” atau blank text yang artinya tanpa teks. Namun, ada juga pandangan dari beberapa tokoh dan budayawan Betawi tentang kata blantek yang merupakan bunyi dari rebana biang, yang jika dipadukan dengan alat musik yang terbuat dari kayu, akan terdengar bunyi 'blang dan tek'.
 
Menurut budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, topeng blantek itu merupakan bagian dari teater Betawi. Penamaan topeng blantek itu diberikan lantaran pertunjukan topeng tersebut dulunya menggunakan alat-alat, seperti rebana dan kayu. Jika rebana biang berbunyi blang dan kayu berbunyi tek jadi blang tek atau blantek. Oleh sebab itu, dinamakanlah menjadi topeng blantek.
 
Pergelaran topeng blantek tidak menggunakan teks. Aktor-aktornya tidak ada yang membacakan teks sebelum maupun selama pementasan. Namun, kreativitas setiap aktor yang menjadi faktor utama dalam penciptaan dialog, seraya tetap membagi tugas berdasarkan tema cerita di dalam pertunjukan.
 
Penamaan 'topeng' diambil dari tokoh Jantuk yang selalu menggunakan topeng di setiap penampilannya. Beberapa sanggar topeng blantek pada tahun 1990-an juga memiliki cerita populer yang mengisahkan tokoh-tokoh legenda Betawi seperti Si Pitung, Jampang, Nyai Dasimah dan lain-lain.
 
Alat Pengiring Rebana Biang
Rebana biang merupakan alat musik tabuh yang berukuran besar. Namun, eksistensinya kian memudar lantaran pembuatannya yang cukup sulit. Hal ini membuat rebana biang tidak lagi digunakan dalam pertunjukan topeng blantek. Pada awalnya topeng blantek dulu menggunakan rebana biang yaitu rebana yang besar. Dulunya setiap pertunjukan pakai rebana itu, kemudian bergeser pada penggunaan alat musik yang lain seperti tanjidor, gong, kendang dan lain-lain. Namun, seiring perkembangan waktu serta penggunaan rebana biang yang mengalami pergeseran itu, alat-alat musik tabuh lainnya kemudian menggantikan posisinya, seperti gong, gendang dan lain-lain.
 
Di daerah lain sekitar wilayah Jakarta, seperti Bogor, juga terdapat kesenian budaya topeng blantek. Namun, kesenian topeng blantek di Kota Bogor, umumnya dijadikan media dakwah untuk menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam. Ditambah dengan lagu-lagu bernuansa Islami. Sedangkan lagu yang termasuk ke dalam kategori hiburan, salah satunya ialah Jali-jali.
 
Eksistensi Topeng Blantek
Kesenian tari topeng blantek hadir sesudah seni topeng Betawi dan lenong populer di kalangan masyarakat. Saat itu, kesenian lenong merupakan hiburan bagi para bangsawan. Sedangkan topeng blantek, merupakan hiburan bagi kalangan menengah ke bawah. Karena itu, topeng blantek terlahir untuk menjadi kesenian yang bersifat universal, yang merespon kesenjangan antara dua budaya tersebut. Kendati demikian, seni budaya topeng blantek menjadi salah satu dari hiburan rakyat yang berasal dari kebudayaan tradisional Betawi.
 
Unsur Penting Pada Pertunjukan Topeng Blantek
Pada awal seni topeng blantek melibatkan penggunaan obor yang digunakan sebagai penerang karena ditampilkan pada malam hari. Obor itu selalu digunakan oleh tokoh Jantuk yang merupakan aktor penting dalam pertunjukan topeng blantek. Ciri khasnya terletak pada ketokohannya yang merupakan aktor pemberi kesimpulan di akhir fragmen. 
 
Selain itu, pada pementasan topeng blantek masa lampau, Jantuk selalu membawa sundung, sebab dulunya, wilayah Jakarta merupakan daerah yang sebagian besar terdiri dari pertanian dan perkebunan. Sundung digunakan oleh para petani yang ada di Betawi, berupa peralatan tradisional petani yang digunakan untuk menyiangi rumput.
 
Kini, sundung hanya diletakkan di atas panggung sebagai salah satu ciri khas dari pertunjukan topeng blantek. Sundung yang digunakan pada pertunjukan topeng blantek berjumlah tiga pasang. Pada dasarnya, Jantuk, sundung dan obor adalah tiga bagian penting dalam pertunjukan topeng blantek, yang menambah atmosfer 'budaya dan agama'. Tokoh Jantuk pada pergelaran seni topeng blantek merupakan simbol dari penasehat agama sekaligus menjadi unsur pembeda antara kesenian topeng blantek dengan teater Betawi yang lainnya. Ia menegaskan ihwal awal dan akhir cerita dalam bentuk dialog.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi