Rabo-rabo, Acara Halalbihalalnya Umat Kristiani di Kampung Tugu

Selain keroncong Tugu dari Kampung Tugu, warga keturunan Portugis di kampung ini juga memiliki tradisi yang berbeda dari tradisi Betawi lainnya. Salah satu tradisi unik yang selalu dilakukan oleh warga kampung Tugu ini adalah tradisi Rabo-rabo. Warga keturunan Portugis di kampung Tugu sebagian besar beragama Kristen. Warga Kampung Tugu merupakan keturunan orang Portugis, yang dijadikan pekerja dan serdadu di zaman Belanda. Ratusan tahun mereka menetap di kawasan Semper, Jakarta Utara, berakulturasi dengan penduduk lokal dan beranak pinak.
 
Sebagaimana kita ketahui umat kristiani di seluruh dunia merayakan hari rayanya yakni Hari Raya Natal setiap tanggal 25 Desember. Biasanya, jika umat muslim di Betawi atau di Indonesia pada umumnya di sela-sela merayakan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran selalu ada acara halalbihalal, atau silaturahmi dan saling mengunjungi warga satu sama lain. Hal serupa pun dilakukan oleh warga kampung Tugu yang mayoritas beragama Kristen.
 
Setiap perayaan Natal, umat Kristiani kampung Tugu melaksanakan tradisi Rabo-rabo dengan riang gembira. Prosesi ritual Rabo-rabo dimulai dengan mengunjungi gereja terdekat dan melaksanakan ibadah. Uniknya, mereka datang ke gereja secara beramai-ramai. Tidak itu saja, tapi ada juga alunan musik yang mengiringinya. Suasana semakin meriah, karena mereka juga menari-nari mengikuti alunan musik sepanjang jalan. Rabo-rabo adalah salah satu tradisi yang masih dijalani oleh warga Kampung Tugu hingga sekarang. Rabo dalam bahasa Portugis berarti ekor. Mengacu pada kewajiban dari tradisi itu sendiri.
 
Sepulang melaksanakan ibadah di gereja, mereka melanjutkan dengan tradisi saling mengunjungi tetangga. Kerabat yang dikunjungi wajib mengunjungi kerabat lainnya. Momen itu dimanfaatkan untuk menanyakan kabar hingga saling bermaaf-maafan. Lalu lintas orang saling mengunjungi itu jadi pemandangan yang unik pada perayaan Natal.
 
Berlangsung Hingga Tahun Baru
Perayaan Rabo-Rabo ini biasanya dilakukan oleh masyarakat kristiani Kampung Tugu dari Natal hingga Tahun Baru. Seni Keroncong Tugu dalam perayaan Rabo-Rabo tak kalah ikut andil. Selesai berdoa di gereja, rombongan pemusik Keroncong Tugu yang fenomenal siap berjalan. Mereka akan pergi ke rumah pertama, yang rutenya sudah diatur oleh Ketua IKBT (Ikatan Keluarga Besar Tugu). Nah, yang unik, ketika sampai rumah warga mereka akan langsung berciuman pipi kiri dan kanan dengan keluarga rumah yang didatangi, bernyanyi, berjoget, sembari makan camilan, dan minum.
 
Setelah selesai dua sampai empat lagu yang diiringi lantunan musik lincah, mereka siap bergeser ke rumah warga lain. Dalam tradisi Rabo-Rabo, setiap tuan rumah yang didatangi harus mengirim perwakilan minimal satu orang ke rombongan pemusik.
Dalam rombongan terdiri dari perempuan, laki-laki, tua, maupun muda. Semua berbaur dalam keakraban yang hangat.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi