Kenapa Roti Buaya Selalu Identik dengan Pernikahan Adat Betawi?

Mendengar kata buaya, selain nama binatang reptil juga memiliki makna konotasi negatif. Buaya sering diartikan oleh sebagian perempuan, sebagai laki-laki gombal yang banyak pacarnya dan hanya menjanjikan harapan-harapan palsu. Tapi, di adat Betawi ada satu makanan yang namanya Roti Buaya dan bahkan dijadikan seserahan di saat upacara pernikahan.
 
Rupanya ada makna tersendiri di balik terpilihnya hewan ini menjadi salah satu makanan yang dibawa pada saat seserahan pernikahan di adat Betawi. Buaya sendiri memiliki sikap setia kepada pasangannya. Buaya jantan tidak akan berpaling ke betina lain, begitupun sebaliknya. Bahkan, buaya jantan akan melindungi si betina yang hendak bertelur, kemudian si jantan akan menjaga telur-telur tersebut hingga tiba waktunya bayi-bayi buaya menetas.
 
Pada mulanya roti buaya disiapkan untuk menyaingi orang-orang Eropa yang kala itu menunjukkan cinta dengan cara memberi bunga pada lawan jenis. Masyarakat Betawi kala itu menginginkan sebuah simbol baru untuk menunjukkan perasaan pada lawan jenis. Maka dipilihlah roti dengan bentuk buaya ini karena sifatnya yang setia pada satu pasangan.
 
Buaya merupakan hewan yang unik. Pada saat musim kawin tiba, selalu memilih pasangan yang sama. Dari sinilah masyarakat Betawi percaya hal tersebut secara turun menurun. Roti buaya yang dibuat biasanya sepasang. Ukuran roti buaya betina biasanya lebih kecil dibandingkan yang jantan. Biasanya dalam roti buaya betina juga ditambah dengan roti buaya kecil terletak di atas punggung atau di sampingnya yang bermakna kesetiaan hingga ke anak cucu.
 
Awalnya roti buaya dibuat dengan tekstur keras, cenderung untuk tidak dikonsumsi. Roti keras ini memiliki filosofi tersendiri, yakni menandakan nantinya pasangan akan langgeng hingga maut menjemput. Namun seiring berkembangnya zaman, tekstur roti buaya berubah menjadi empuk seperti roti pada umumnya. Dan roti buaya pun setelah selesai acara pernikahan akan dibagikan kepada para tamu dengan harapan dapat segera menyusul menikah.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi