Upacara Nyadran, Melarung Kepala Kerbau ke Laut

Upacara ritual Nyadran di Betawi berbeda dengan nyadran di tempat lainnya. Jika selama ini dikenal Nyadran adalah ritual mensucikan sebelum datangnya bulan Ramadan, namun bagi kalangan masyarakat Betawi khususnya yang tinggal di pesisir pantai, Nyadran adalah upacara sedekah laut.
 
Upacara ritual sedekah laut ini diadakan setelah musim barat berakhir dan nelayan mulai mencari ikan kembali. Upacara Nyadran ini dahulu merupakan upacara atau ritual yang dilakukan oleh penduduk Kerajaan Salakanagara, khususnya di Pesalo, yang wilayahnya diperkirakan saat ini berada di pesisir Jakarta seperti di Kampung Marunda dan Kali Blencong, Cilincing, Jakarta Utara
 
Penduduk dalam upacara ini menyembelih kerbau kemudian kepalanya dihanyutkan di laut sebagai sedekah. Selain kepala kerbau yang dilarung atau dihanyutkan ke laut, juga ada beberapa hasil bumi lainnya dan miniatur perahu. Para nelayan dan penduduk  juga menyantap makanan yang sudah dibawa sebagai bentuk rasa syukur masih diberi rejeki.
 
Menurut kepercayaan para neyalan dan penduduk tradisi melarung kepala kerbau ke laut adalah untuk memberi makan pada ikan-ikan. Sebab selama ini yang menjadi mata pencaharian penduduk setempat adalah mencari ikan.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi