Tradisi Nyelawat atau Ngelawat

Saat ada orang meninggal, orang Betawi akan menjalankan beberapa prosesi sebelum dan sesudah orang yang meninggal tersebut dimakamkan. Salah satu prosesi yang dilakukan orang Betawi adalah Ngelawat atau Nyelawat. Ngelawat atau nyelawat adalah mengunjungi rumah tetangga, sanak keluarga ataupun orang lain yang sedang ditimpa kemalangan seperti kematian.
 
Kebiasaan orang Betawi ini terutama dilakukan oleh tetangga dan sanak keluarga terdekat. Orang-orang yang datang ngelawat atau nyelawat biasanya membawa sumbangan berupa uang yang disebut "uang selawat" yang jumlahnya tidak ditentukan tergantung kemampuan serta keikhlasannya.
 
Tradisi ini biasanya selalu diikuti oleh prosesi adat lainnya seperti membantu mengurus jenazah. Pengurusan jenazah ini mulai dari memandikan hingga melaksanakan upacara bagi fidiyah atau pudie bertempat di masjid atau musala dan dipimpin oleh kiai setempat yang dituakan. Pihak keluarga jenazah menyerahkan perwakilan kepada kiai dengan mengucapkan ijab-kabul.
 
Kemudian setelah acara pemakaman selesai, dilakukanlah acara tahlilan. Acara ini merupakan tradisi sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal dan diwujudkan dalam doa-doa tahlilan.
 
Tahlilan ini diselenggarakan oleh para anggota keluarga yang ditinggalkan almarhum atau almarhumah. Mereka mengadakan selamatan atau sedekahan pada waktu yang meninggal telah mencapai 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari dari saat meninggalnya. Saat tahlilan mereka mengundang tetangga dan kerabat untuk hadir dan membacakan ayat– ayat Al-Qur’an dan do’a – doa untuk almarhum atau almarhumah.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi