Tradisi Cerita Bertutur: Buleng

Tradisi tutur atau cerita dari mulut ke mulut selalu dilakukan oleh orang-orang tempo dulu. Tradisi seperti ini pun ada di kalangan masyarakat Betawi yang dikenal dengan istilah Buleng. Buleng berasal dari nama seorang penutur cerita atau pendongeng yang berada di wilayah Betawi pada zaman dulu.
 
Nama Buleng dijadikan nama istilah bagi penutur cerita atau pendongeng karena, ada kebiasaan di masyarakat Betawi jika menamai sesuatu istilah keahlian selalu memakai orang yang pertama kali mempunyai keahlian tersebut. Seperti halnya Pak Buleng yang kesehariannya berprofesi sebagai penutur cerita atau pendongeng maka jenis keahlian mendongengnya disebut Buleng.
 
Buleng sebagai tradisi lisan masyarakat Betawi memiliki ciri-ciri yang khas yaitu pencerita hanya seorang diri dan tidak ada pengiring maupun pendamping. Ciri khas lainnya adalah cerita yang dibawakan adalah cerita atau kisah-kisah kerajaan lokal seperti cerita Kerajaan Tanjung Jaya, yang konon berada di wilayah Jakarta. Selain itu ada pula cerita-cerita rakyat lainnya dari daerah lain misalnya Ciung Wanara, Mundinglaya Dikusumah dan Prabu Siliwangi dari Jawa Barat.
 
Tradisi lisan Buleng biasa ditampilkan pada acara-acara seperti khitanan (sunatan), pernikahan, nujuh bulanan, ulang tahun, dan haul. Dalam acara khitanan biasanya tradisi lisan Buleng ini tampil pada malam sebelum hari H sunatan. Tradisi lisan ini tidak membutuhkan tempat khusus untuk tampil, bisa di dalam rumah sambil berkumpul melingkar beralaskan karpet dan tikar atau dibuatkan bale di luar dengan posisi penonton bisa duduk atau berdiri.
 
Waktu acara tradisi lisan pada umumnya malam sedangkan durasi waktunya sangat fleksibel bisa semalam suntuk, bisa sejam dua jam, dan seterusnya, bisa juga sesuai keinginan yang punya hajat. Begitu juga cerita yang akan dibawakan bisa sesuai keinginan yang punya hajat atau terserah pada juru cerita saja.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi