Tradisi Bersih Kubur

Tradisi bersih kubur tak lepas dari tradisi lainnya yang mengiringi, yakni tradisi ziarah kubur. Bersih kubur atau biasa juga disebut dengan ‘ngored’ dilakukan pada waktu-waktu tertentu, misalnya menjelang bulan Ramadan atau pada saat Hari Raya Idul Fitri. Tak hanya menjelang bulan Ramadan saja, tapi di waktu-waktu lain juga seperti bulan Zulhijah, Muharam, Rajab, serta bulan Syawal (menurut penanggalan hijriah).
 
Bagi masyarakat Betawi, ziarah maupun bersih kubur dipandang sebagai salah satu aktivitas sosial keagamaan, di mana orang-orang yang berziarah kemudian membersihkan kuburan dari rumput-rumput yang sudah tinggi atau pun dedaunan yang berserakan di sekitar kuburan. Tujuan tradisi ini dilakukan selain bersih-bersih kuburan, juga mendoakan orang yang sudah meninggal khususnya dari kalangan anggota keluarga, agar diampuni dosa-dosanya selama hidup di dunia.
 
Di dalam budaya Betawi kuburan yang dikunjungi dan dibersihkan tidak jauh dari sekitar rumah mereka. Dalam alam dan pola pikir orang Betawi, setiap orang diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tanah tanah adalah tempat kelahiran dan kematian. Karena itulah, rumah orang Betawi memiliki tanah alias kebon yang luas. Tanah adalah untuk diwariskan, bukan dijual. Oleh sebab itu, dalam satu lingkungan tempat tinggal orang Betawi, kadang-kadang ditemukan ada kuburan keluarga.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi