Syair Siti Zawiyah: Kisah Kesetiaan Seorang Istri

Syair Siti Zawiyah adalah salah satu karya kesusastraan Melayu klasik yang ditulis pada abad ke-19 oleh Tuan Bilal Abu, seorang pujangga asal Riau. Syair ditulis menggunakan bahasa Melayu dengan huruf Arab-Jawi. Kemudian syair ini disalin kembali oleh Muhammad Bakir pada tahun 1893 di Pecenongan. Syair ini ada juga yang menyebutnya Syair Haris Fadilah dan juga disebut sebagai Syair Perempuan Piatu.
 
Syair ini bercerita tentang ketabahan seorang istri dalam menghadapi cobaan hidup berumah tangga. Siti Zawiyah adalah putri seorang saudagar kaya yang menikah dengan Haris Fadilah, putra seorang raja dari Basrah. Awalnya, Haris Fadilah tidak mau dijodohkan dengan Siti Zawiyah karena ia sudah berada dalam cengkeraman empat orang wanita penghibur yang memakai ilmu hitam untuk menaklukkannya. Setelah menikahi Siti Zawiyah, tanpa sepengetahuan istrinya, Haris Fadilah diam­-diam tetap berhubungan dengan keempat orang wanita itu.
 
Ketika Haris Fadilah hendak berangkat berlayar ke berbagai negeri, ia menanyakan kepada Siti Zawiyah dan keempat wanita penghibur itu oleh-oleh apa saja yang mereka inginkan. Siti Zawiyah meminta oleh-oleh "akal”, sedangkan keempat wanita meminta  barang-barang yang mahal. Ketika pulang dari pelayarannya, Haris Fadilah sudah mendapatkan semua permintaan keempat wanita penghibur itu, tetapi oleh-oleh "akal” untuk Siti Zawiyah tidak diperolehnya.
 
Atas nasihat seorang tua yang ditemuinya dalam perjalanan, Haris Fadilah menyamar dengan mengenakan pakaian yang buruk ketika menemui keempat wanita dan istrinya. Keempat wanita itu memaki dan menghinanya, sedangkan istrinya menerimanya dengan setia. Akhirnya, Haris Fadilah menyadari kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukannya. Di akhir cerita, Siti Zawiyah dan Haris Fadilah menjalani kehidupan sebagai suami-istri yang berbahagia. Haris Fadilah dilantik menjadi Sultan Basrah dengan didampingi Siti Zawiyah sebagai permaisurinya.
 
Naskah Syair Siti Zawiyah saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode naskah ML-255 bersamaan dengan naskah syair lainnya seperti naskah Syair Sang Kupu-Kupu dan Belalang, serta beberapa sajak pendek dalam bahasa Belanda. Teks ditulis di atas kertas jenis Eropa berukuran 19,5 x 15,5 cm. Naskah berjumlah 164 halaman, ditulis di atas kertas dengan dua jenis cap kertas, pertama gambar singa berdiri, memegang pedang dan memakai mahkota, menghadap kekiri dalam lingkaran yang bertuliskan “Concordia Resparvae Crescunt” dan cap yang kedua ada tulisan Van Gelder Zonen dan Amsterdam.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi