Syair Ken Tambuhan: Kisah Cinta Ken Tambuhan dan Inu Kertapati

Syair Ken Tambuhan adalah sebuah karya sastra yang disalin oleh Muhammad Bakir pada abad ke-19 tepatnya pada tahun 1897 di Pecenongan. Saat ini Syair Ken Tambuhan tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan nomor naskah ML-247. Syair Ken Tambuhan adalah sebuah cerita panji yang sangat terkenal sebagai salah satu karya sastra Melayu klasik.
 
Syair Ken Tambuhan terdiri dari 1.065 bait, berisi kisah percintaan Raden Inu Kertapati dan Ken Tambuhan. Cerita diawali dengan permaisuri Raja Kuripan melahirkan putra yang diberi nama Raden Inu Kertapati. Oleh orang tuanya, Raden Inu Kertapati dijodohkan dengan putri Raja Daha di Banjar Kulon. Ternyata Raden Inu jatuh cinta kepada Ken Tambuhan, putri angkat Raja Kuripan yang dipelihara dan dibesarkan di Kota Batu.
 
Sebenarnya Ken Tambuhan disembunyikan di Kota Batu agar tidak diketahui oleh putra mahkota. Ken Tambuhan kemudian bertemu dengan ayah dan ibu kandungnya, yang ternyata adalah raja Daha di Banjar Kulon, yang sudah 13 tahun kehilangan putrinya yang bernama Puspa Kencana. Ia ditemukan oleh raja Kuripan di tengah hutan dan diangkat sebagai anak.
 
Singkat cerita, Raden Inu bertemu dengan Ken Tambuhan dan menjalin cinta. Ketika mengetahui hal itu, permaisuri Raja Kuripan sangat marah lalu menyusun siasat. Raden Inu disuruhnya berburu rusa di hutan, lalu Ken Tambuhan disuruh menyusul Raden Inu dengan diantar oleh dua orang dayang dan Palebaya.
 
Atas perintah permaisuri, Palebaya membunuh Ken Tumbuhan bersama kedua dayang itu. Mayat mereka ditinggal di tengah hutan. Dalam perburuannya, Raden Inu menemukan mayat kekasihnya bersama dua orang dayangnya. Raden Inu pun bunuh diri menyusul kekasihnya. Atas peristiwa tersebut Raja Kuripan amat sedih kehilangan putra mahkota, anak satu-satunya.
 
Ketika Raja Kuripan mengetahui bahwa otak pembunuh anaknya adalah istrinya sendiri, permaisuri diusir dari istana. Kemudian, Palebaya beserta keluarganya ditangkap, rumahnya dibakar, dan hartanya disita. Raja kemudian mendirikan candi untuk memuja batara di kayangan dan menyemayamkan jenazah Raden Inu, Ken Tambuhan, dan kedua dayang di dalam candi.
 
Doa yang dipanjatkan dengan khusyuk oleh seorang ayah ternyata dikabulkan para dewa. Batara Kala turun ke dunia dengan mengelilingi candi tiga kali. Raden Inu, Ken Tambuhan, dan kedua dayang hidup kembali setelah diusap kembang Wijaya Kemala. Selanjutnya, Ken Tambuhan mencari ibu mertuanya yang hidup menderita dalam pembuangan. Ken Tambuhan memaafkan kesalahannya. Ia juga membebaskan Palebaya beserta keluarganya dari hukuman raja. Ken Tumbuhan kemudian bertemu dengan ayah dan ibu kandungnya raja Daha di Banjar Kulon. Raja Daha dan Raja Kuripan kemudian menggelar penobatan Inu Kertapati sebagai raja baru di negeri Kuripan
 
Teks Syair Ken Tambuhan ini ditulis di atas kertas Eropa putih bergaris berukuran 31,5 x 19 cm. Terdapat tiga jenis cap kertas, pertama gambar singa memegang pedang dan memakai mahkota menghadap ke kiri dalam sebuah lingkaran bermahkota. Dalam lingkaran tersebut tertulis Pro Patria Eendracht Maakt Magt. Cap kedua bergambar singa dengan tulisan Concordia Resparvae Crescunt dan cap Ketiga bertuliskan Van Gelder.
 
Naskah berjumlah 116 halaman. Penomoran halaman asli menggunakan angka Arab 1-115.
Setiap halaman bersisi 18-20 baris. Tulisan naskah masih jelas terbaca. Teks ditulis dengan
tinta hitam, yang sudah menjadi kecokelat-cokelatan.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi