Syair Buah-buahan

Syair Buah-Buahan adalah sebuah syair simbolik yang disalin oleh Muhammad Bakir pada tahun 1896. Syair Buah-buahan ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Arab-Jawi. Syair Buah-Buahan melukiskan watak dan perilaku sejumlah bunga dan buah-buahan, yang sebenarnya melambangkan sosok manusia. Syair ini terkandung dalam sebuah naskah tunggal yang tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode ML 254.
 
Dalam syair tersebut diceritakan sebuah jalinan percintaan antara anggur dan buah delima, mangga dan rambutan, sawo dan srikaya, serta cempedak dan nangka. Dalam Syair Buah-buahan ini disisipkan juga berbagai kisah-kisah pendek lainnya. Seperti kisah seorang pria Tionghoa yang sangat mencintai istrinya yang sedang sakit parah. Segala jenis obat telah diminumnya, namun sakitnya tidak berkurang, malah semakin parah. Merasa ajalnya sudah dekat, istri pria Tionghoa tersebut minta dicarikan buah anggur dan delima. Setelah memakan buah itu, ia meninggal dunia dengan tenang.
 
Selanjutnya, ada pula kisah sepasang Kumbang yang sedang memadu kasih. Kedua Kumbang kemudian terbang membawa sekuntum kembang ke dalam istana raja, lalu dijatuhkan di hadapan putri raja. Putri raja melihat karangan bunga bagai dipahat, di dalamnya ada pantun yang tersurat.
 
Putri raja mengetahui bahwa ini perbuatan Kumbang dan ia jatuh cinta kepadanya. Putri selalu mengharap kedatangan Kumbang. Untuk menghibur dirinya, ia menyuruh orang membuat tiruan bunga-bungaan. Perbuatan kedua Kumbang memberi manfaat kepada pengrajin hiasan kembang dan memberi keuntungan kepada tukang kembang.
 
Naskah ditulis di atas kertas Eropa tanpa cap kertas, berukuran 20 x 16 cm. Naskah dalam keadaan kurang baik, terdapat kertas yang lepas dari kurasinya. Tulisan naskah masih jelas terbaca, menggunakan tinta hitam yang kini warnanya pudar menjadi coklat tua.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi