Permainan Tumbuk Batu

Permainan Betawi tumbuk batu atau ada yang juga menyebutnya tumbuk uang hampir sama dengan permainan cublak-cublak suweng dari Jawa Tengah. Permainan ini pada umumnya dimainkan oleh anak perempuan berumur 6 hingga 9 tahun. Nama tumbuk-tumbuk batu berawal dari kegiatan kaum wanita yang menumbuk padi.
 
Permainan diawali dengan melakukan undian yang menggunakan cara bungselan. Dari beberapa daun, salah satu di-bungsel (diikat) ujungnya. Kemudian digenggam dan satu persatu anak memilih daun. Siapa yang mendapat daun dengan ujung ter-bungsel (terikat) maka harus jaga terlebih dahulu.
 
Pemain yang jaga menelungkupkan badan, seperti orang yang sedang bersujud dan kepalanya tidak boleh menengok ke kiri dan ke kanan. Pemain yang lain meletakkan telapak tangannya di atas punggung anak yang bersujud. Salah satu di antara mereka memegang batu yang diputarkan di atas seluruh telapak tangan pemain yang lain sambil bernyanyi yang liriknya seperti berikut ini:
 
Sibrak-sibarak uang.
Uangnya ambu titi ambu tata.
Jenggal jenggul.
Te ... te ... gate.
Cap gule cap manisan.
Dahar eee te' dar manisan.
Tembutu-tembutu ...
Tembutu-tembutu ...
Tembutu-tembutu ...
Celata celutu.
Sale sale pegang batu
Di depan pintu.
 
Ada pula versi lainnya dengan perbedaan di bait pertama:
Tumbuk-tumbuk uang….
Uangnya ami arum ...
Rum selilitum
Sembayang tepekang ...
Buka satu dari bawah ...
 
Bersamaan dengan habisnya bait pertama dari lagu tersebut, batu akan jatuh di  dalam salah satu telapak tangan seorang anak. Kemudian mereka menyanyikan bait seterusnya sambil menggenggam tangan seolah-olah sedang memegang batu. "tembutu-tembutu .... " begitu teriak pemain seusai batu disembunyikan.
 
Anak yang jaga akan bangkit dari duduk dan menebak siapa yang menggenggam batu sambil menyanyikan lagu bait ke-4, "celata-celutu ... ". Kalau tebakannya salah maka dia harus jaga lagi. Tetapi jika bisa tertebak, anak yang menggenggam batu gantian jaga.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi