Permainan Torti

Permainan tradisional Torti hampir sama dengan permainan tradisional Betawi lainnya yakni petak umpet atau tap inglo. Hanya saja permainan Torti dimainkan secara beregu atau berkelompok, yang satu kelompok jaga dan yang satunya lagi kelompok yang jalan atau yang bersembunyi. Nama torti berasal dari bunyi pemukul pelepah pisang yang dipukulkan ke arah kaki lawan, "tort" dan mendapat akhiran "i”
.
Jumlah anggota kelompok dalam permainan Torti harus ganjil (3, 5, 9, dst). Permainan diawali dengan menentukan tempat pos pemberhentian yang berupa pohon besar. Tempat ini dijadikan sebagai tempat kelompok yang jaga menutup mata dengan kedua tangannya dan menunggu kelompok lain bersembunyi. Pos pemberhentian juga nantinya sebagai tempat pemberhentian bagi kelompok yang jalan setelah mereka bersembunyi. Setelah suit untuk menentukan anggota kelompok dan mengundi kelompok mana yang jaga lalu permainan dimulai.
 
Salah satu kelompok menutup mata sambil diawasi wasit yang telah ditunjuk, sambil berteriak kepada kelompok yang jalan "Ude ape belon?" Jika kelompok yang jalan menyahut, "Tort ... Ti !", berarti mereka sudah bersembunyi dan siap untuk dicari. Kalau bisa ditemukan maka ia akan dipukul dengan pemukul dari pelepah pisang pada bagian lutut kaki.
 
Untuk menghindari pukulan peserta boleh lari ke inglo supaya kelompok yang jaga menghentikan pukulannya. Bila tidak berhasil ditemukan dan bisa kembali ke inglo maka ia bebas dari pukulan, mendapat poin satu, dan dinyatakan menang. Sedang peserta yang kena pukulan berarti mengurangi satu angka bagi kelompoknya.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi