Permainan Petak Jongkok

Permainan Petak Jongkok merupakan salah satu permainan tradisional populer yang tak hanya di kalangan masyarakat Betawi, tapi juga di daerah lainnya di Indonesia. Permainan ini mulai muncul sejak era penjajahan Belanda hingga era 90-an. Untuk bermain permainan ini, setiap pemain harus memiliki kekuatan fisik dan strategi berpikir. Karena selama permainan, setiap pemain akan berlari mengejar pemain lainnya dan berjongkok secara cepat. Sedangkan strategi digunakan agar tidak kalah dengan pemain lainnya. 
 
Permainan ini dimainkan dengan jumlah pemain minimal 5 orang, tapi semakin banyak pemain akan semakin seru. Sebelum bermain dilakukan hompimpa terlebih dahulu. Kemudian yang kalah dalam hompimpa akan menjadi pengejar atau disebut dengan ‘jaga’. Pemain yang tidak menjadi pengejar atau ‘jaga’ harus berlari menghindari si jaga.  Agar tidak tersentuh si jaga, pemain harus jongkok secepat mungkin. Pemain yang sudah jongkok tidak boleh disentuh oleh si Jaga. Jika pemain tersentuh oleh si Jaga sebelum ia jongkok, maka dia menjadi si Jaga berikutnya.
 
Aturan lainnya, jika seluruh pemain jongkok maka ada salah satu yang mengambil aba-aba untuk membangunkan semua pemain. Pemain terakhir yang jongkok dan terlambat bangun nantinya akan menggantikan si jaga untuk ronde selanjutnya.
 
Ada manfaat yang bisa didapat dari permainan ini khususnya anak-anak di rentang usia 6-10 tahun. Salah satunya adalah anak menjadi lebih kreatif. Sebab, permainan tradisional petak jongkok tidak memiliki aturan tertulis, maka para pemain dapat membuat aturannya sendiri sesuai dengan keadaan pemain dan lingkungan sekitar.
 
Permainan ini juga bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak. Saat bermain petak jongkok, anak-anak dapat melepaskan emosinya. Mereka bisa berteriak, tertawa, dan bergerak. Permainan Petak Jongkok juga dapat mengembangkan kecerdasan spasial anak. Dalam permainan petak jongkok, dikenalkan untuk mengenal konsep ruang atau berganti peran yaitu sebagai pengajar atau yang dikejar. Manfaat yang terakhir dan tak kalah penting adalah melatih sportivitas anak.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi