Perahu-perahuan, Permainan Tradisional dari Kampung Marunda

Permainan tradisional Perahu-perahuan sangat populer pada tahun 1950-an di wilayah pesisir Jakarta seperti Cilincing, Marunda dan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Permainan Perahu-perahuan biasanya dimainkan di sekitar Kali Blencong.
 
Permainan dimainkan pada waktu musim laut pasang, pada bulan November, Desember, dan Januari. Permainan Perahu-perahuan juga terkadang dimainkan pada perayaan tertentu seperti Perayaan Hari Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus.
 
Perahu-perahuan biasanya dimainkan oleh 5 orang yang rata-rata berumur 13-16 tahun. Peralatan yang dibutuhkan mencakup segala macam jenis kayu/bambu, seutas tali untuk menarik perahu, dan cat pewarna. Ada juga yang hanya berupa sabut kelapa yang ditancap bambu di tengahnya. Potongan bambu diberi kain atau plastik sebagai layar.
 
Setelah ditentukan garis finish yang terbuat dari bambu oleh wasit maka pemain bersiap-siap untuk berlari ke arah bambu tersebut dengan menarik perahu-perahuan masing-masing. Apabila wasit sudah berkata, "Stop ... stop . .. !" Berarti sudah ada yang sampai ke garis finish. Peserta yang lebih dulu sampai dan memegang batas bambu akan dianggap sebagai pemenang. Bagi pemenang boleh menjitak/memukul punggung lawan sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi