Ngerudat: Rombongan Pengantin Laki-laki Menuju Rumah Pengantin Perempuan

Dalam upacara pernikahan adat Betawi terdapat beberapa rangkaian ritual dan kegiatan yang dilakukan. Mulai dari lamaran hingga pelaksanaan resepsi pernikahan. Salah satu rangkaian acara atau ritual adat pernikahan Betawi adalah proses persiapan sang pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan, lengkap beserta dengan rombongan dan seserahannya.
 
Pada umumnya, rombongan pengantin laki-laki Betawi akan membawa beberapa barang seserahan seperti mas kawin atau mahar, sepasang roti buaya, telur asin, sirih nanas, kue pengantin, dan kekudang atau suatu barang dan makanan yang disenangi oleh calon pengantin perempuan sejak kecil hingga dewasa. Serta tak lupa membawa buah-buahan.
 
Salah satu yang khas dalam adat istiadat ngerudat ini adalah sepasang roti buaya. Roti buaya merupakan simbol kesetiaan di mana diharapkan sang pengantin saling setia seperti buaya yang hanya kawin sekali seumur hidup.
 
Beberapa rombongan calon pengantin laki-laki terdapat beberapa orang yang ikut dalam proses ngerudat ini, yakni dua orang lelaki setengah baya berbaju jas kain serebet yang bertugas sebagai juru bicara. Kemudian dua orang jago sebagai pengawal calon tuan mantu berpakaian pangsi. Calon tuan mantu berpakaian jas kain serebet diapit encang encing dari pihak babe dan enyak.
 
Lalu ada rombongan rebana dan ketimpring atau rebana ngarak. Tiga orang pemuda memakai pakaian sadariah membawa sirih nanas lamaran, mahar dan sirih nanas hiasan. Tiga orang pemuda membawa miniatur masjid, kekudang, dan kue susun pengantin. Beberapa pemuda membawa roti buaya, dan sebagainya. Prosesi ini juga diiringi oleh bacaan salawat sebagai doa agar upacara mendapat keberkahan.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi