Lakon Jaka Sukara: Kisah Peperangan Antara Pandawa dan Kurawa

Lakon Jaka Sukara adalah sebuah cerita wayang yang berbentuk prosa yang disalin oleh Muhammad Bakir di Pecenongan sekitar abad ke-19. Ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dengan huruf Arab-Jawi. Naskah Lakon Jaka Sukara saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan Kode Naskah ML-246.
 
Lakon Jaka Sukara bercerita tentang peperangan antara keluarga Pandawa dan Kurawa. Kisah berawal dari cerita seorang pendeta bernama Dipa Kusuma yang tinggal di Gunung Indrakila. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Sari yang sangat merindukan dan mencintai Arjuna. Untuk memenuhi keinginan putrinya, Pendeta Dipa Kusuma mengubah dirinya menjadi seekor burung perkutut, lalu terbang mencari Arjuna. Kemudian, ia berhasil mendapatkan Arjuna, lalu mengawinkannya dengan Ratna Sari. Ratna Sari kemudian melahirkan seorang putra bernama Raden Putra Jaka Tilangin.
 
Selanjutnya, Arjuna bertapa di Gunung Pakembangan. Di gunung itu ia bertemu dengan Pendeta Buyut Kusuma, yang mempunyai anak bernama Ratna Sari juga. Arjuna pun kawin dengan Ratna Sari, putri Pendeta Buyut Kusuma dan dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Raden Bambang Sukara.
 
Di bagian cerita lain, diceritakan bahwa Raja Parwa Kusuma dari negeri Karang Kencana yang akan menyelenggarakan sayembara untuk memilih calon suami bagi putrinya, Birantawati. Para raja dari berbagai negeri datang untuk mengikuti sayembara itu. Bahkan ada beberapa di antaranya diwakilkan oleh seseorang kepercayaan kerajaannya. Seperti Pendeta Durna datang meminang untuk anak Raja Suyudana bernama Arya Dursasena. Demikian juga, Raja Darmaksusuma dari Amerta mengutus Gatotkaca membawa surat kepada Raja Parwa Kusuma untuk meminangkan putrinya untuk anaknya, Pancawala.
 
Sementara itu, kedua anak Arjuna Raden Jaka Tilangin dan Raden Bambang Sukara tidak sengaja datang ke negeri Karang Kencana yang sedang menggelar sayembara. Padahal mereka berdua sedang mencari para anggota Pandawa yang salah satunya adalah ayahnya yakni Arjuna. Pada akhirnya kedua anak Arjuna itu mengikuti dan terlibat sayembara di Negeri Karang Kencana.
 
Di dalam sayembara untuk memperebutkan Putri Birantawati, Gatotkaca berhasil mengalahkan para prajurit Negeri Karang Kencana. Begitu pun dengan Jaka Tilangin dan Bambang Sukara berhasil mengalahkan para prajurit Negeri Karang Kencana. Mereka bertiga menguasai medan peperangan, tetapi akhirnya mati bersama-sama, karena masing-masing tertikam oleh keris saudaranya sendiri. Karena tidak saling mengenal, mereka saling membunuh.
 
Sementara di kayangan mendengar kematian anak-anak Pandawa itu, yakni Gatot Kaca, Jaka Tilangin dan Bambang Sukara. Batara Narada pun turun ke bumi dan membawa banyu panguripan atau air kehidupan untuk menghidupkan mereka kembali. Batara Narada memberitahukan bahwa mereka bersaudara. Pada akhirnya Jaka Tilangin dikawinkan dengan Birantawati.
 
Setelah sayembara selesai, ketiganya pergi ke negeri Amerta untuk menemui para Pandawa. Dalam perjalanan Jaka Tilangin bertemu dengan Arya Dursasena yang mengamuk dan merebut Birantawati, lalu dibawa lari ke Astina. Ketika mendengar kabar bahwa Arya Dursasena menculik isteri Raden Jaka Tilangin, keluarga Pandawa murka. Mereka menyusul ke negeri Astina untuk mengambil kembali Birantawati.
 
Perang pun tak terhindarkan lagi. Keluarga Kurawa banyak yang binasa, sebagian dipenjara, kecuali Raja Suyudana dan Pendeta Dorna yang melarikan diri. Mendengar anak cucunya dibinasakan, Destarata sebagai orang tua para Kurawa yang ada di kayangan merasa sakit hati.
 
Destarata pun turun ke bumi lalu menjelma menjadi Pangeran Jatiwitana. Dengan bantuan Suyudana dan Dorna, Jatiwitana berhasil menjumpai Semar dan meminta kunci penjara. Keluarga Kurawa yang di penjara pun dilepaskannya. Namun setelah itu terjadi lagi peperangan.
 
Keluarga Pandawa, termasuk Arjuna dan Bima, berhasil ditangkap oleh keluarga Kurawa. Pandu Dewanata sebagai orang tua para Pandawa yang berada di kayangan turun ke bumi untuk menolong anak-anaknya. Ia kemudian menjelma menjadi Pangeran Jatiwilaga untuk membantu anak cucunya. Perang yang kian hebat lagi-lagi mengakibatkan kayangan menjadi goncang. Batara Guru mengutus Batara Narada untuk memisahkan mereka yang berperang.
 
Jatiwitana berubah kembali menjadi Destarata dan Jatiwilaga berubah kembali menjadi Pandu Dewanata. Keduanya kemudian saling bermaafan dan berjabat tangan, lalu kembali ke kayangan bersama Batara Narada. Setelah keadaan menjadi tenang, masing-masing kembali ke negaranya.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi