Hikayat Syekh Muhammad Saman: Riwayat Ulama Pendiri Tarekat Samaniyah

Hikayat Syekh Muhammad Saman merupakan salah satu naskah yang disalin oleh Muhammad Bakir. Muhammad Bakir menyalinnya pada 1 Februari 1884 di Pecenongan, Langgar Tinggi.
 
Naskah Hikayat Syekh Muhammad Saman disalin Muhammad Bakir dalam Bahasa Melayu dari Bahasa Arab dengan huruf Arab-Jawi, di atas kerta jenis Eropa  berukuran 30 × 18 cm. Naskah berjumlah 57 halaman. Penomoran halaman asli ditulis dengan angka Arab 1-57 dengan pensil, hanya setiap dua halaman. Tiap halaman berisi 13-16 baris.
 
Di dalam penjelasannya di bagian akhir naskah, Muhammad Bakir menjelaskan, ia menyalin naskah Hikayat Syekh Muhammad Saman dari Bahasa Arab ke Bahasa Melayu agar bisa dibaca dan diketahui oleh orang-orang yang tidak memahami Bahasa Arab dengan baik pada masa itu.
 
Pada halaman 51 naskah Hikayat Syekh Muhammad Saman dijelaskan pula hikayat ini berhasil diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Melayu oleh Muhammad Muhyiddin, anak Syekh Syahbuddin Al-Jawi pada tahun 1196 hijriah atau 1782 masehi.
 
Hikayat Syekh Muhammad Saman berisi riwayat hidup tokoh sufi terkenal pendiri Tarekat Samaniyah. Teks Hikayat Syekh Muhammad Saman diawali dengan cerita tentang sejumlah wali Allah, mulai dari Syekh Abdul Kadir Jaelani, Muhyidin ibn Arabi, Syekh Abi Yazid al-Bustami, Sayyid Umar ibn al-Farid, dan Syekh Muhammad as-Saman.
 
Disebutkan bahwa para wali Allah itu mengambil nur ilmu Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam. Selanjutnya, diuraikan riwayat hidup, kemuliaan, dan karamah-karamah Syekh
Muhammad Saman. Ketika akan meninggal, beliau mengucapkan kalimat “Allah, Allah”.
 
Syekh Muhammad Saman lahir dan meninggal di Kota Madinah, kota tempat ia mendirikan tarekatnya. Ia lahir pada tahun 1132 hijriah dan meninggal pada 2 Zulhijah 1189 hijriah, pada usia 57 tahun. 


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi