Hikayat Syekh Abdul Kadir: Kisah Ulama Masyhur yang Diceritakan di Seluruh Nusantara

Hikayat Syekh Abdul Kadir Jaelani Jaelani berisi riwayat hidup Syekh Abdul Kadir Jaelani, penghulu para wali. Hikayat ini terkenal dalam berbagai bahasa di Nusantara. Hikayat Syekh Abdul Kadir Jaelani juga terdapat dalam teks berbahasa Jawa dan Sunda.
 
Bahkan konon katanya naskah teks Hikayat Syekh Abdul Kadir Jaelani disalin dari bahasa Jawa ke bahasa Melayu oleh Muhammad Bakir.  Hikayat Syekh Abdul Kadir Jaelani sendiri bersumber dari kita Kitab Khalasat al-Mafakhir.
 
Naskah Hikayat Syekh Abdul Kadir Jaelani berbahasa Melayu versi Betawi ini tersimpan di Perpustakaan Nasional.
Riwayat hidup Syekh Abdul Kadir Jaelani dalam hikayat ini dibagi atas 31 hikayat, masing-masing tentang suatu adegan khusus. Hikayat yang pertama misalnya, menceritakan bagaimana Abdul Kadir waktu masih bayi berhenti menyusu pada suatu hari,
ketika awal mula bulan Ramadan.
 
Kemudian di dalam hikayat kedua menceritakan kisah Abdul Kadir yang masih anak-anak bagaimana ia pernah mendengar suara para malaikat. Hikayat yang ketiga menceritakan Abdul Kadir pergi ke Baghdad untuk belajar. Dengan berpakaian seperti seorang fakir, ia ikut dalam sebuah kafilah.
 
Di perjalanan, mereka dirampok oleh segerombolan begal, tetapi begal tersebut terperanjat dan akhirnya bertobat karena kepolosan dan kejujuran Abdul Kadir. Ia lama belajar di Baghdad, sampai akhirnya menggantikan gurunya yang sudah meninggal. Demikianlah, ia menjadi seorang ulama terkenal di Baghdad.
 
Naskah Hikayat Syekh Abdul Kadir Jaelani ditulis di atas kertas Eropa berukuran 20 × 15,5 cm. Tidak ditemukan cap kertas. Naskah ini berjumlah 191 halaman. Kondisi kertas masih baik.
 
Naskah Hikayat Syekh Abdul Kadir  Jaelani, yang selesai disalin pada tanggal 2 November 1892. Teks naskah ini diakhiri dengan surat al-Fatihah dan doa kepada Syekh Abdul Kadir Jaelani .


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi