Hikayat Syahrul Indra

Hikayat Syahrul Indra merupakan salah satu cerita petualangan yang berbentuk prosa. Naskah Hikayat Syahrul Indra disalin oleh Muhammad Bakir dalam bahasa Melayu dengan tulisan Arab-Jawi. Teks ditulis dalam sebuah buku khas Eropa yang setiap halamannya bergaris horisontal dan vertikal biru dan merah, dan tidak mempunyai cap kertas. Ukurannya 32 × 20 cm. Naskah berjumlah 371 halaman, setiap halaman berisi 18 baris. Penomoran halaman asli ditulis dengan angka Arab 2-371.Teks ditulis dengan tinta hitam.
 
Dalam syair di akhir naskah, Muhammad Bakir menjelaskan bahwa dia menyalin hikayat ini dengan terburu-buru sehingga tulisannya jelek sekali, contoh kalimat yang ia tulis adalah “Jadi tulisan jelek sekali, contohnya saya tak mampu beli, contohnya saya boleh sewa, supaya jangan jadi kecewa, jadi terburu saya tuliskan jua, maka maklum baba semua”
 
Dari sisi cerita, Hikayat Syahrul Indra mengisahkan tentang Raja Tahir Alam Mengerna Indra di Dahrul Maydan, yang beristri Mandu Ratnasari. Diceritakan, dalam hutan Pandan, raja burung kakatua, Indra Paksi, kehilangan anaknya yang bernama Paksi Purnama.
 
Paksi Purnama lalu ditemukan oleh Raja Tahir Alam dan diberikan kepada istrinya. Burung itu menasihati Putri Mandu Ratnasari bahwa, supaya hamil, Putri Mandu Ratnasari harus memakan bunga dari Raja Balia Denta. Putri pun hamil dan melahirkan seorang anak, bernama Syahrul Arifin Perdana Indra, yang kemudian menjadi teman Paksi Purnama
.
Suatu ketika, Syahrul Arifin kemudian diculik oleh empat orang menteri, tetapi diselamatkan oleh seekor garuda yang kemudian menceburkannya ke laut. Syahrul Arifin mendarat di Pulau Purwa Sakti dan bertemu dengan Arkas Dewa dan Johan Pahlawan. Ia pulang dan berganti nama Syahrul Indra Lela Bangsawan.
 
Kemudian pada suatu saat di negeri Wirama Kancana diadakan sayembara untuk meminang Putri Kumkuma Jauhari, anak Raja Bahr Syah. Sang putri memiliki saudara bernama Johan Indra. Putri Kumkuma yang telah dilamar oleh 39 pangeran, termasuk Syahrul Indra, diculik oleh Dewa Lela dan dibawa ke negerinya, Puspa Gandam.
 
Setelah mendapat kabar bahwa Putri Kumkuma diculik, Syahrul Indra menyusul ke Puspa Gandam dengan mengendarai kuda terbangnya, diiringi Belia Denta dan Paksi Purnama yang sudah berubah menjadi manusia. Syahrul Indra berhasil membunuh Dewa Lela dan membebaskan Putri Kumkuma.
 
Suatu ketika Johan Indra dari Rancang Patani datang ke Wirama Kancana bersama ayahnya, lalu bertemu dengan Syahrul Indra. Keduanya lalu pergi mencari harta karun yang hilang. Di perjalanan mereka bertemu dengan Peri Purba Laksana dengan putrinya yang
bernama Sukandasari, yang telah bertunangan Lela Wirajana dari Pura Istana.
 
Putri Sukandasari yang diculik oleh seekor naga, dibebaskan oleh Syahrul Indra yang berhasil membunuh naga tersebut. Kemudian Syahrul Indra mencintai Putri Sukandasari. Sang Putri bersedia menerima cinta Sharul Indra asalkan ia dapat membunuh Lela Wirajana. Setelah berhasil memenuhi syarat itu, kawinlah Syahrul Indra dengan Putri Sukandasari.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi