Hikayat Sultan Taburat

Hikayat Sultan Taburat adalah naskah Melayu klasik dalam bentuk prosa yang tersimpan di perpustakaan nasional. Hikayat Sultan Taburat ada dua jilid teks naskah. Pada jilid pertama ada 5 bagian naskah, dan di jilid kedua ada 4 bagian naskah. Sampai saat ini belum diketahui siapa yang mengarang hikayat ini. Namun, pada teks jilid pertama pernah disalin oleh Muhammad Bakir.
 
Dalam syair penutup yang disalin Muhammad Bakir, ia menulis, “Ini hikayat turun yang kedua kali, sebab yang lama sudah rusak sekali, jauh sekali pada yang lama, tulisnya tiada seumpama, tapi ceritanya saja yang sama, harap yang baca sudi terima. Sebab saya baru belajar, lagi tintanya banyak yang malar, ada yang halus ada yang kasar, lagi yang menulis ada kurang sabar, lagi umur saya belon berapa, sementar ingat sementar lupa, dengan tulisan ayahanda tiada ada serupa, tulisannya hina terlalu papa” 
 
Dari ungkapan yang ditulis Muhammad Bakir ini ternyata, ada beberapa bagian yang hilang dari naskah Hikayat Sultan Taburat ini. Meski belum terkonfirmasi, ada yang menyebutkan hikayat ini ditulis oleh Syafian bin Usman.
 
Terkait dengan kisahnya sendiri, Hikayat Sultan Taburat menceritakan tentang Sultan Taburat yang memerintah sebuah negeri bernama Thar al-'Arqan, didampingi seorang permaisuri bemama Puspasari dan memiliki seorang putra bemama Indera Buganda Syafandar Syah.
 
Sebagian besar teks mengisahkan kehidupan dan petualangan Indra Buganda, yang setelah menikahi Siti Mahrum Sari, putri Rajah Bahrun di Mahran Linggasari, pergi berlayar hingga sampai ke sebuah negeri yang kotanya berwarna hitam. lsi teks selanjutnya menceritakan petualangan Indra Buganda selama berlayar dari satu negeri ke negeri lainnya.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi