Hikayat Siti Hasanah

Hikayat Siti Hasanah adalah salah satu karya sastra Melayu Klasik yang merupakan bagian atau cerita berangka yang ada di dalam naskah Hikayat Bayan Budiman. Diperkirakan naskah Hikayat Siti Hasanah ini merupakan cerita saduran yang kemudian diadaptasi dan disalin ke dalam bahasa Melayu.
 
Hikayat Siti Hasanah bercerita tentang perjalanan seorang istri seorang saudagar kaya. Karena saudagar kaya tersebut akan berdagang, ia menitipkan Siti Hasanah kepada saudaranya. Ternyata saudaranya jatuh cinta kepada Siti Hasanah. Tapi, Siti Hasanah menolak cinta saudara suaminya. Saudara suaminya marah dan memfitnah Siti Hasanah telah berzinah dengan mengajukan saksi palsu.
 
Siti Hasanah pun dihukum rajam, tetapi karena tidak berdosa, ia selamat. Siti Hasanah ditolong oleh orang Baduwi dan tinggal bersama orang mereka. Selama tinggal bersama orang Baduwi, Siti Hasanah merawat dan memelihara anak orang Baduwi dengan penuh kasih sebagai ungkapan tanda terima kasihnya.
 
Akan tetapi, malapetaka kembali menimpa Siti Hasanah. Habsyi, salah seorang pembantu orang Baduwi jatuh cinta pada Siti Hasanah tapi ia menolak cinta Habsyi. Habsyi pun marah dan membunuh anak orang Baduwi dan kemudian memfitnah Siti Hasanah lagi dengan meletakkan pisau di tangan Siti Hasanah. Siti Hasanah pun diusir oleh orang Baduwi tersebut.
 
Siti Hasanah berjalan beberapa waktu hingga pada akhirnya tiba di sebuah negeri. Di negeri tersebut ia bertemu dengan seorang pencuri yang hendak dihukum. Siti Hasanah pun menolongnya, dan si pencuri mengikuti kemana pun Siti Hasanah pergi. Siti Hasanah terus berjalan dan sampailah di sebuah pelabuhan, lalu ia naik ke dalam kapal untuk ikut berlayar.
 
Orang-orang yang ada di kapal tersebut jatuh cinta dan terpesona dengan kecantikan Siti Hasanah. Bahkan, orang-orang yang ada di kapal tersebut ingin merebut kehormatan Siti Hasanah. Siti Hasanah pun takut lalu ia berdoa. Dengan kekuasaan Allah muncul angin ribut dan menghancurkan kapal. Siti Hasanah selamat sampai di daratan, lalu ia menyamar menjadi laki-laki dan masuk ke dalam sebuah negeri.
 
Siti Hasanah diterima oleh raja dalam negeri tersebut, bahkan diangkat menjadi pemegang kepemimpinan di dalam negeri itu. Semua orang senang pada kebijaksanaan Siti Hasanah. Ketika raja meninggal, Siti Hasanah pun diangkat menjadi raja. Selama jadi raja, Siti Hasanah semakin dicintai rakyat negeri tersebut.
Sementara itu, suami Siti Hasanah kembali dari perniagaan. Ia menanyakan Siti Hasanah kepada saudaranya. Saudaranya mengatakan bahwa Siti Hasanah telah mati. Saudagar sangat bersedih hati. Suatu saat, semua orang yang telah mencelakai Siti Hasanah menderita sakit.
 
Mereka berobat kepada Siti Hasanah. Suami Siti Hasanah juga membawa saudaranya yang menderita sakit. Saudagar itu tidak mengenali Siti Hasanah. Siti Hasanah hanya mengatakan agar mereka bertobat dan selalu berbicara jujur. Siti Hasanah meminta saudagar itu untuk kembali minggu berikutnya.
 
Setelah tiba waktunya, Siti Hasanah menanyakan kabar tentang istri saudagar itu. Saudagar menceritakan bahwa istrinya telah mati. Siti Hasanah bertanya apakah saudagar akan mengenali istrinya jika masih hidup? Saudagar menjawab bahwa ia akan mengenali istrinya. Siti Hasanah kemudian berganti baju dengan pakaian perempuan. Saudagar sangat gembira melihat Siti Hasanah masih hidup. Meskipun demikian, Siti Hasanah meminta suaminya bersabar karena ia mau melaksanakan shalat. Sayang, Siti Hasanah meninggal dalam sujud.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi