Hikayat Purusara: Cerita Seorang Pertapa

Hikayat Purasara adalah sebuah naskah cerita wayang yang berbentuk prosa berbahasa Melayu dengan huruf Arab-Jawi. Tidak diketahui siapa pengarang Hikayat Purasara ini. Hanya saja di setiap halaman banyak tanda tangan Muhammad Bakir. Hal ini sebagai bukti naskah ini miliknya. Namun, dari gaya huruf Arab-Jawi yang ditulis tangan dapat dipastikan naskah ini disalin oleh Muhammad Bakir.
 
Hikayat Purasara bercerita tentang sepasang manusia Sakkara dan Dewi Ismaya yang diciptakan oleh Sanghyang Tunggal, yang kemudian dikirimkan ke bumi. Sang Hyang Tunggal pun ikut turun ke bumi dan kemudian berubah wujud menjadi seorang Semar. Kemudian Semar menciptakan Garubuk dan Anggalia yang merupakan anaknya sendiri.
 
Sementara Sakkara dan Dewi Ismaya memiliki anak bernama Purasara, Sentanu dan Sambirawa. Setelah dewasa, Sentanu dan Purasara pergi mengembara. Setelah ratusan tahun ditinggal mengembara oleh kedua anaknya Sentanu dan Purasara, Sakkara dan Dewi Ismaya memiliki seorang putri bernama Dewi Sri Wati. Dewi Sri Wati diperistri oleh Sentanu yang telah kembali dari pengembaraannya.
 
Sakkara pulang ke kayangan dan diganti oleh Sentanu sebagai raja, sedangkan Purasara bertapa di berbagai gunung. Ketika Purasara pergi bertapa ke Gunung Parasu, Batara Guru khawatir ia akan menjadi lebih sakti dari segala batara. Maka Batara Guru mengirim berbagai utusan untuk menghalangi Purasara menyelesaikan tapanya.
 
Dalam pertapaannya, Purasara sempat diserang oleh empat raksasa, dan dihalangi oleh empat ekor binatang puasa. Selain itu godaan lainnya, Purasara sempat dirayu oleh empat bidadari cantik. Namun ia tetap bisa menjalankan pertapaannya. Pada akhirnya, setelah ratusan tahun bertapa, Purasara terbangun karena Semar menggigit kakinya.
 
Pada saat pulang dari pertapaannya, Purasara bertemu dengan seorang putri bernama Dewi Raramis, putri Raja Begawan Wangsapati dari negeri Warta. Putri itu tampak cantik, tapi badannya berbau amis. Kemudian Purasara menyembuhkan penyakitnya dan memperistrikannya, kemudian naik tahta di Negeri Warta.
 
Sekali waktu Purasara pergi bertapa, meskipun istrinya sedang hamil. Saat itulah Sentanu datang berusaha merayu Dewi Raramis. Namun Dewi Raramis tidak mau dan menyusul ke tempat pertapaan suaminya. Sentanu pun ikut membuntuti.
 
Di tempat pertapaan Purasara, Sentanu dan saudaranya Purasara terlibat perkelahian. Perkelahian mereka begitu dahsyat sehingga membuat dunia terguncang dan membuat para dewa di kayangan sangat khawatir. Akhirnya mereka turun ke bumi dalam jumlah begitu besar sampai hari menjadi gelap.
 
Selama kedua saudara terus bertanding, Dewi Raramis melahirkan seorang putra yang diberi nama Gangga Suta. Namum Gangga Suta, semakin membesar tapi aksen bicaranya cadel. Seperti ia pernah berkata ‘Enak betul Kang Semal belkidung, apa altinya?’ Meski, sudah tumbuh besar, ayahnya Purasara dan Sentanu masih saja berkelahi. Sampai akhirnya didamaikan oleh Batara Narada.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi