Hikayat Nahkoda Asyik: Kisah Anak Raja Berpetualang Menjadi Nakhoda

Hikayat Nakhoda Asyik merupakan karya kesusastraan Melayu klasik paling terkenal. Hikayat ini dikarang oleh Sapirin bin Usman dalam bentuk prosa. Hikayat Nakhoda Asyik ditulis dalam bahasa melayu dengan tulisan Arab-Jawi di nashkah tunggal dan tersimpan di Perpustakaan Nasional. 
 
Hikayat Nakhoda Asyik berisi cerita tentang perjalanan anak raja dari negeri Diarul Asyik, Sunkar Bilmalih, yang pergi berkelana mencari ilmu. Ia menyamar sebagai nakhoda dan mempercayakan segala urusan dagangnya kepada seorang tua yang bernama Encik Muhibat untuk berdagang atas namanya.
 
Dalam perjalanan, ia bertemu dengan putri Asma Penglibur yang terhanyut bersama ayahnya Raja Anta Berduka dari Pasir Berhambur. Keduanya sedang melarikan diri dari kejaran musuh. Sebab, di negeri mereka, Pasir Berhambur sedang terjadi peperangan. Setelah diselamatkan Sunkar Bilmalih, mereka bersama-sama kembali ke negeri Pasir Berhambur untuk berperang melawan musuh. Akhirnya, musuh dapat dikalahkan dan Sunkar Bilmalih dikawinkan dengan Asma Penglibur.
 
Setelah tujuh bulan lamanya tinggal di negeri Pasir Berhambur, Sunkar Bilmalih meminta izin kepada istri dan mertuanya untuk pergi berdagang ke lain negeri. Dalam pelayarannya, Sunkar Bimalih menganti namanya menjadi Nakhoda Asyik Cinta Berlekat. Kemudian sampailah Nakhoda Asyik di negeri Diarul Masyhuk. Di negeri itu Nakhoda Asyik mengunjungi kampung Masyuk Berdendam yang terkenal karena para wanitanya pandai bernyanyi dan menawan hati laki-laki.
 
Di kampung itu, ia jatuh cinta dengan Asma Tuturan yang kemudian diperistrinya. Pasangan suami istri ini mendapat cobaan akibat ulah musuh-musuhnya. Asma Tuturan difitnah oleh Menteri Ganda Titiran dan dimasukkan ke penjara, namun kemudian dibebaskan oleh Raja Suka Birawan.
 
Sementara itu, Nakhoda Asyik terhanyut di laut dan diselamatkan oleh Encik Muhibbat. Nakhoda Asyik lalu pulang ke negerinya, Diarul Asyik, menemui orang tuanya. Ia kembali menjadi Sunkar Bilmalih.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi