Bleduran, Permainan Tradisional Betawi Saat Bulan Ramadan

Setiap bulan Ramadan permainan Bleduran selalu dimainkan oleh anak-anak Betawi pada zaman dulu. Bleduran atau ada juga yang menyebutnya sebagai permainan Meriam Sundut, terinspirasi oleh meriam-meriam tempur milik Belanda pada masa penjajahan. Permainan ini umumnya dilakukan oleh remaja laki-laki hingga dewasa karena memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi.
 
Waktu bermainnya biasanya malam hari, setelah salat tarawih hingga menjelang sahur. pada saat bulan puasa. Cara bermainnya diawali dengan memasukan bahan peledak ke pangkal bleduran yang dipasang miring sekitar 10-20 cm di atas tanah.
 
Setelah itu ujung laras bleduran ditutup dengan kain basah agar uap karbit atau minyak tanah tidak keluar. Agar bunyinya nyaring, lubang sundut ditutup dengan jari atau alat penutup lain selama satu hingga lima menit sebelum disundut dengan api.
 
Untuk dapat bermain bleduran diperlukan beberapa peralatan, yaitu sebatang bambu petung tua berdiameter 10 hingga 17 cm dan panjang sekitar 1 meter dengan beberapa ruas. Ruas pertama sengaja tidak dibuat lubang, sedangkan ruas kedua dan ketiga diberi dua lubang berbentuk laras selebar 10 sentimeter dan 1 sentimeter sebagai tempat untuk menyundut. Kemudian bahan peledak berupa karbit atau minyak tanah


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi