Permainan Kodok-kodokan: Bermain Seolah Menjadi Seekor Kodok

Salah satu permainan tradisional anak-anak Betawi yang terkenal adalah permainan kodok-kodokan. Sesuai dengan asal katanya, ‘’kodok’’ yang berarti katak. Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak berumur 8-13 tahun. Permainan yang melibatkan banyak pemain ini salah satu di antara pemain ada yang berperan sebagai kodok atau katak. 
 
Permainan ini dimulai dengan seorang pemain yang berperan sebagai pawang seolah-olah memanggil roh untuk dimasukkan ke ke dalam tubuh pemeran sang ‘’kodok’’. Kemudian, pemeran ‘’kodok’’ ini menirukan tingkah laku kodok seperti melompat-lompat dan bersuara seperti kodok atau katak.
 
Pemeran ‘’kodok’’ harus mengejar pemain lain, jika ada pemain lain yang berhasil ditangkap oleh si pemeran ‘’kodok’’, maka ia akan menjadi ‘’kodok’’ selanjutnya dan mengejar pemain lainnya juga. Bagi pemain lain agar tak terhindar dari kejaran pemeran sang ‘’kodok’ bisa dengan duduk jongkok. Duduk jongkok ini bisa dilakukan juga apabila pemain merasa capai karena terus dikejar oleh sang ‘’kodok’’, sehingga sang ‘’kodok’’ pun tak bisa mengejarnya lagi.
 
Kemudian ada aturan lain di permainan ini, kalau yang duduk jongkok itu ingin lekas berdiri lagi, dia harus memegang kaki sang ‘’kodok’’ dengan hati-hati karena kalau tidak dia akan menjadi kodok selanjutnya. Kalau semua pemain berhasil dibuat duduk jongkok oleh sang ‘’kodok’’, maka keadaan akan berbalik menjadi sang ‘’kodok” akan dikejar oleh pemain lainnya dengan belompat-lompat seperti kodok pula.
 
Apabila salah satu dari mereka berhasil memegang kaki sang “kodok” yang dikejar, ia bisa berdiri kembali, dia bisa menyembuhkan kawan-kawan kodok untuk berdiri dengan cara memegang tubuh mereka. Permainan ini berakhir jika pawang mengusir roh kodok itu dengan memanggil nama asli pemeran tersebut berkali-kali dengan suara keras.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi