Melatih Keseimbangan dengan Permainan Egrang

Permainan egrang atau sudah dikenal sebelum kemerdekaan 1945. Egrang memiliki makna bambu atau kayu yang diberi pijakan (untuk kaki) agar kaki leluasa bergerak berjalan. Egrang dibuat secara sederhana dengan memanfaatkan potensi alam.

Umumnya egrang menggunakan dua batang bambu, dengan panjang lebih dari satu meter. Beberapa sentimeter dari atas tanah, dibuatkan pijakan. Lewat pijakan itulah pemain egrang berjalan.

Bambu yang biasa dipakai untuk permainan ini adalah jenis bambu apus atau bambu wulung. Ada juga jenis bambu lain yang bisa digunakan misalnya bambu petung atau bambu ori yang lebih besar.

Egrang bisa dimainkan secara individu atau kelompok. Di pedesaan egrang dimainkan siang hari sepulang sekolah atau di saat menggembala ternak. Permainan egrang lebih sering dipakai untuk bersantai. Hanya pada saat-saat tertentu egrang digunakan untuk permainan perlombaan. Keahlian yang harus dimiliki oleh pemain egrang adalah keseimbangan badan. Tanpa bisa menjaga keseimbangan, si pemain akan sering jatuh.

Bentuk egrang bisa pendek, bisa juga tinggi. Ukuran egrang sendiri berbeda-beda, tergantung dari tinggi badan si pemain. Bila orang bermain egrang, maka posisi tubuhnya menjadi jauh lebih tinggi daripada tubuh yang sebenarnya.

Di kalangan masyarakat Betawi, egrang dimainkan saat karnaval dengan berjalan bersama iring-iringan ondel-ondel. Misalnya pada saat perayaan kemerdekaan RI, masyarakat Betawi pun kerap melombakan permainan egrang.

Dulu egrang dimainkan sebagai arak-arakan saat musim panen tiba, terutama di kawasan Betawi pinggiran, seperti daerah Pondokrangon, Cipayung, Ciledug, Joglo, dan kawasan lain yang mata pencaharian penduduknya sebagai petani.



QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi