Hikayat Raja Syah Mandewa: Petualangan Dua Anak Raja

Kumpulan naskah sastra Melayu klasik lainnya yang terkenal adalah Hikayat Raja Syah Mandewa. Hikayat ini merupakan cerita petualangan dalam bentuk prosa. Naskah ini  tidak diketahui siapa pengarangnya hanya tapi sempat disalin ulang oleh Muhammad Bakir. Ada beberapa sumber yang menyebut naskah ini ditulis oleh pamannya Muhammad Bakir, Sapirin bin Usman.
 
Hikayat ini menceritakan Raja Syah Mandewa di Jampala Waru yang tidak memiliki anak. Kemudian ia mengangkat anak kedua putra menterinya, yaitu Ganta Wara dan Ganta Wiri. Suatu ketika Raja Syah Mandewa pergi berburu kijang, ditemani oleh Ganta Wara dan  Ganta Wiri, serta ditemani seorang patih yang bernama Damar Jati.
 
Pada masa itu, di negeri Peringga berkuasa seorang raja sakti yang bernama Jaya Sakti. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Jaka Paringga yang sangat jahat. Ketika sedang berburu, terjadilah peperangan antara Ganta Wara dan Raja Syah Mandewa dengan Jaka Peringga. Jaka Peringga kalah lalu pulang ke negerinya untuk belajar ilmu kesaktian kepada Pendeta Ajar Sungkuni dan bertapa di Gunung Wilis.
 
Sementara itu, Raja Syah Mandewa menikah dengan Dewi Mangrum Kencana. Mereka dikaruniai dua orang anak. Anaknya bernama Damar Jati dan Damar Cuaca, yang lahir di Jampala Waru.
 
Kembali ke Jaka Paringga, setelah selesai bertapa di Gunung Wilis, Jaka Paringga mengadu kesaktian dengan Raja  Syah Mandewa. Jaka Paringga akhirnya mati. Mendengar anaknya mati di tangan Raja Syah Mandewa, Jaya Sakti kemudian mengutus Raja Jaya Lawa, saudaranya di negeri Gelamba, untuk menyerang Jampala Waru. Jaya Lawa dapat dikalahkan dan rakyatnya melarikan diri.
 
Selanjutnya, diceritakan anak Raja Syah Mandewa, Damar Jati mencari ayahnya sampai ke negeri Raja Wangsa  Kumaya di Kalanggaru. Di negara tersebut sedang diselenggarakan sayembara untuk mencari suami bagi Nila Sari dan Nila Asmara, putri Raja Wangsa Kumaya. Damar Jati menyamar sebagai Sira Patanian dan terlibat perang tanding dengan anak-anak raja yang mengikuti sayembara. Sira Patanian memenangkan sayembara dan memboyong kedua putri tersebut ke negerinya.
 
Di tengah jalan, mereka dihadang oleh Damar Cuaca yang menyamar sebagai Prabu Lara. Karena tidak saling mengenal, mereka berperang. Cerita diakhiri dengan munculnya Raja Syah Mandewa bersama permaisurinya, Dewi Mangrum Kemala dan Pendeta Lalawi Guna bersama anaknya, Dewi Mangrum Kencana untuk  menghentikan peperangan antara Damar Jati atau Sira Patanian dengan Damar Cuaca atau Prabu Lara. Prabu Lara (Damar Cuaca) menemui ayahnya, Raja Syah Mandewa dan Sira Patanian (Damar Jati) menemui kakeknya, Pendeta Lalawi Guna. 
 
Akhirnya, mereka sadar bahwa mereka bersaudara lain ibu. Setelah suasana damai, mereka kembali ke Jampala Waru. Damar Cuaca dikawinkan dengan Nila Sari dan Damar Jati dikawinkan dengan Nila Asmara.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi