Hikayat Gelaran Pandu Turunan Pandawa: Awal Kisah Keturunan Pandawa

Hikayat Gelaran Pandu Turunan Pandawa merupakan sambungan Hikayat Asal Mulanya Wayang. Hikayat ini menceritakan kelahiran kelima anggota keluarga Pandawa. Pada awal cerita, Maharaja Basukuweti di negeri Widara Kandang mempunyai tiga orang anak, yaitu Basudewa, Dewi Kunti Nalibrata, dan Arya Prabu.
 
Melihat Dewi Kunti sudah menjadi remaja, Maharaja Basukuweti berniat menyembunyikannya di sebuah pulau untuk menghindarkannya dari pandangan mata anak raja-raja lain. Karena kasihan terhadap saudara perempuannya, Arya Prabu memberikan kitab ilmu rahasia untuk dibaca dalam pengasingan. Setiap hari Dewi Kunti membaca kitab tersebut sehingga pengetahuan dan ilmunya semakin bertambah.
 
Di suatu malam ketika Dewi Kunti sedang membaca kitab dengan keras, Batara Surya turun karena mendengar suaranya. Batara Surya memberikan Aji Bala Sengara kepada Dewi Kunti, sambil berpesan agar tidak membaca aji kalau berbaring dan terurai rambutnya, serta tidak boleh keras-keras membacanya. Jika dilanggar, Dewi Kunti akan terkena bencana.
 
Namun, di kemudian hari Dewi Kunti melanggar pesan Batara Surya. Akibatnya, ia hamil tanpa bersuami. Ketika Raja Basukuweti melihat putrinya hamil, ia marah besar sampai mau membunuhnya, tetapi dicegah oleh Batara Surya. Raja menyadari kekeliruannya. Dewi Kunti melahirkan anak melalui telinganya dengan bantuan Batara Surya. Anak tersebut bernama Karna.
 
Maharaja Basukuweti bermaksud membuat sayembara untuk mencarikan jodoh bagi Dewi Kunti. Surat undangan disebarkan kepada 99 orang anak raja-raja. Sebanyak 98 undangan dikirim kepada anak raja-raja di sebelah kulon atau barat (diantarkan oleh Basudewa) dan 1 undangan dikirim ke Kerajaan Astina di sebelah wetan atau timur (diantarkan oleh Arya Prabu).
 
Singkat cerita, Dewi Kunti kemudian menikah dengan Prabu Pandu Dewanata yang kemudian melahirkan 5 orang anak dan nantinya menjadi keluarga Pandawa. Kelima anak tersebut adalah, Yudhistira, Bima, Arjuna Nakula dan Sadewa.
 
Hikayat Gelaran Pandu Turunan Pandawa adalah sebuah cerita wayang dalam bentuk prosa. Hikayat ini terkandung dalam sebuah naskah tunggal yang tersimpan di Perpustakaan Nasional. Pada kedua halaman pertama tertulis: “Terkarang di Pecenongan Langgar Tinggi oleh Ence Muhammad Bakir Syafian al-Fadli”, namun hikayat ini
bukan karangan asli oleh Muhammad Bakir sendiri, melainkan disadurnya dari tuturan
seorang dalang.
 
Naskah teks ditulis dalam sebuah buku kas Eropa dengan kertas tebal bergaris biru dan merah, tanpa cap kertas, berukuran 31,5 × 20 cm dan berjumlah 198 halaman. Bahasa yang digunakan bahasa Melayu menggunakan huruf Arab-Jawi.
 
Naskah diakhiri dengan sebuah syair berisi keterangan tentang asal-usul cerita Gelaran Pandu dan latar belakang penulisannya, serta juga beberapa nasehat kepada pembaca. Pertama, penulis menjelaskan bahwa ceritanya disadur dari sebuah lakon wayang yang dituturkan oleh seorang dalang.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi