16-06-2021

MUSEUM M.H THAMRIN

M.H Thamrin
 

MOHAMMAD HUSNI THAMRIN


             124 tahun yang lalu Mohammad Husni Thamrin lahir, alias Bang Ni, pada hari Jum’at tanggal 16 Februari 1894 di pinggiran kota Betawi, yakni Sawah Besar yang terletak di sebelah utara pinggiran Molenvliet Timur. Ayah nya bernama Thamrin Muhammad Tabrie dan ibunya bernama Nurhamah. Ayah MH. Thamrin adalah seorang pegawai Pamong Praja berpangkat Wedana. Kakek Muhammad Husni Thamrin bernama Ort orang Berkebangsaan Inggris dan seorang pengusaha hotel di Petojo dan daerah Suka bumi, Nenek MH. Thamrin bernama Noeraini.
          Semasa kecil Thamrin sudah menunjukan jiwa sosialis nya dengan tidak hanya bermain dengan anak – anak Wedana, tetapi juga bermain dengan anak – anak kampung dipinggir kali dan bermain bola dilapangan yang becek, semasa kecilnya Thamrin sering dipanggil dengan sebutan Mat seni kebiasaan orang – orang Betawi dulu suka menyingkat nama, dari pengalaman masa kecil nya lah yang membuat Thamrin menjadi anggota Dewan yang paham betul keluh kesah masyarakat pribumi dipinggiran dan menjadikan nya motivasi untuk memperbaiki keadaan sosial yang ada.

            Pada tahun 1901 Muhammad Husni Thamrin pernah bersekolah di Bijbel school Pasar baru, dan berlanjut di sekolah Institut Bosch dimana ia diberi nama Indo Belanda yaitu “Jacob” agar dapat diterima disini, sampai kesekolah lanjutan terakhir di Sekolah Koning Willem III sat itu setara dengan HBS di Salemba Raya. Thamrin terlihat menonjol dalam pelajarannya dan pergaulan. Setelah selesai sekolah akhir, Thamrin tidak mau lagi bersekolah dibiayai orangtuanya. Perhatiannya mulai tercurah kepada bidang politik, MH. Thamrin banyak mengngagumi tokoh – tokoh pergerakan Indonesia seperti Dr. Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo, tokoh Belanda Van Der Zee dan Dr.Koperberg. Sempat bekerja di Kantor Kepatihan Batavia dan KPM, lalu menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota), kemudian menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat).


Kiprahnya dalam pergerakan nasional, berjuang untuk rakyat, kemajuan masyarakat pribumi, dan puncaknya menuntut Indonesia berparlemen dan merdeka membuat pemerintah Kolonial mencari alasan untuk menangkapnya. Menjelang akhir hayatnya ia menjadi tahanan rumah,  dituduh telah melawan Belanda. Ia wafat 11 Januari 1941 dan dimakamkan di pekuburan Karet.