Ditetapkan jadi Objek Cagar Budaya, Kawasan Makam Mbah Priok Jadi Destinasi Wisata Religi di Jakarta yang Ramai

Keberadaan makam keramat mbah Priok  atau  Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad resmi dijadikan situs cagar budaya melalui Keputusan Gubernur No. 438 tahun 2017. Awalnya, kawasan ini dianggap berantakan, padahal memiliki nilai religi yang sangat besar bagi warga sekitar. Sebelum direvitalisasi dan dijadikan objek cagar budaya, kawasan tersebut dipenuhi dengan rawa. Sekarang, banyak sekali anggota masyarakat yang berziarah ke Makam Mbah Priok, terutama ketika tiba Idul Fitri.
 
Pengunjung atau jamaah pastinya akan merasa nyaman jika memasuki Masjid Makam Mbah Priok, karena puluhan jendela di Masjid tersebut menjadi pintu masuk keluar udara segar. Bangunan bernuansa hijau dengan ornamen khas Betawi, yang didesain beratap tinggi, ditambah sirkulasi udara yang tertata dengan baik, semakin menambah nyaman suasana.
 
Masyarakat yang datang berkunjung bebas beribadah sambil berziarah ke kawasan makam, kemudian bisa duduk istirahat sambil bercengkrama dengan anggota keluarga lainnya di pelataran yang memang selalu dijaga kebersihannya oleh pengelola.
 
Sejarah Makam
Mengenai sejarah makam, ada banyak versi. Namun begitu, menurut Buku Saku Kasus Mbah Priok karya Ahmad Sayfi'i Mufid, Robi Nurhadi, dan KH Zulfa Mustofa, sejarawan Ridwan Saidi menyatakan, bahwa Tanjung Priok tidak bisa dikaitkan dengan Mbah Priok.   Nama Tanjung Priok justru terkait Aki Tirem, penghulu atau pemimpin daerah Warakas yang tersohor sebagai pembuat priok (periuk). Sedangkan kata Tanjung merujuk pada kontur tanah yang menjorok ke laut atau tanjung.
 
Buku itu juga mempertanyakan Risalah Manaqib yang dikemukakan ahli waris Mbah Priok.  Dalam risalah tersebut, Mbah Priok disebut sebagai penyiar Islam yang lahir pada 1727 di Palembang dan kemudian pergi ke Batavia setelah dewasa untuk menyebarkan agama Islam. 
 
Ia meninggal pada 1756 dalam usia 29 tahun sebelum sampai ke Batavia. Mbah Priok kemudian dikubur dekat pantai dengan nisan kayu dayung berhias priok nasi di sisi makamnya. Kayu dayung itu pun cepat tumbuh menjadi pohon tanjung. Dari sanalah nama Tanjung Priok muncul. Tetapi, dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Mbah Priok sebenarnya lahir pada tahun 1874 dan meninggal pada tahun 1927. 
 
Sementara wartawan senior Alwi Shahab, dalam buku tersebut juga menyatakan, jika dilihat dari sumber-sumber sejarah di kalangan kelompok Arab-Hadramaut, Habib Hassan tak mungkin lahir pada 1727 sementara ia keturunan ketiga (cicit) dari Habib Hamid Mufti dari Palembang yang wafat pada 19 Juli 1820. 
 
Habib Hamid lahir pada 1750 dan wafat pada 1820 dalam usia 70 tahun, sehingga tak mungkin cicit lahir lebih dulu daripada buyut. Dalam buku yang sama dikatakan, jika peninjauan diarahkan pada periode Habib Hassan Al Haddad antara tahun 1874-1927, maka dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin nama Tanjung Priok berasal darinya. 
 
Pada 1877, pemerintah kolonial Belanda mulai melaksanakan proyek pelabuhan yang dinamai Haven Tanjung Priok. Sedangkan pada saat itu, Habib Hassan baru berusia tiga tahun dan tinggal di Palembang. Dalam buku itu juga dijelaskan, pada saat Habib Hassan berangkat ke Batavia dan tertimpa musibah hingga akhirnya meninggal pada tahun 1927, nama 'Haven Tanjung Priok' sudah tersohor. 
 
Nama pelabuhan Haven Tanjung Priok juga tercatat dalam buku-buku catatan perjalanan wisatawan mancanegara ke Hindia Belanda. Misalnya E.R. Scidmore, turis asal Amerika yang datang ke pualu Jawa pada 1890 dan menuliskan pengalamannya saat tiba di Haven Tanjung Priok.
 
Sejarawan Ridwan Saidi dalam buku tersebut juga mempertanyakan pengkaitan nama Mbah Priok dengan asal mula Tanjung Priok. Menurutnya, jauh sebelum Mbah Priok ada, nama Tanjung Priok sudah lebih dulu dikenal, bahkan sudah disebut dalam naskah sunda abad ke 16.
 
Sejarah memang kerap ada perbedaan versi, namun nilai-nilai kebaikan yang ditunjukkan dari peninggalan-peninggalan yang dilestarikan dapat menjadi acuan untuk menempa mentalitas bangsa ini dari generasi ke generasi. Bukan sebatas religi saja, akan tetapi ke semua sisi kehidupan, dengan berpedoman pada Pancasila sebagai acuan dasar berbangsa dan bernegara


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi