Sejarah Stasiun Tanjung Priok, Kabanggan Warga Batavia di Era Hindia-Belanda

Kawasan Tanjung Priok dikenal dengan pelabuhan yang sibuk dan sarat akan kemacetan. Puluhan truk besar memadati lokasi yang berada di pesisir utara kota Jakarta ini. Namun, orang tak banyak tahu kalau Tanjung Priok juga memiliki sebuah stasiun yang sudah berdiri sejak masa kolonial Hindia-Belanda.
 
Keberadaan Stasiun Tanjung Priuk memang tak dapat dipisahkan dari sibuknya Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan terbesar pada masa kolonial Hindia-Belanda dan saat ini. Pelabuhan Tanjung Priok berperan sebagai pintu gerbang kota Batavia pada saat itu.
 
Di era pembangunannya, Stasiun Tanjung Priok terbagi menjadi dua periode, yaitu Stasiun Tanjung Priok lama yang berada persis di atas dermaga dan Stasiun Priok baru yang hingga saat ini masih beroperasi di dekat Terminal Tanjung Priok.  Stasiun Tanjung Priok lama selesai dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken pada 1883 dan pada tahun 1885 diresmikan pembukaannya bersamaan dengan pembukaan Pelabuhan Tanjung Priok.
 
Pengelolaan stasiun dan jalur kereta api Sunda Kelapa–Tanjung Priuk diserahkan kepada perusahaan kereta api negara milik pemerintah kolonial, Staatsspoorwegen (SS). Sampai dengan tahun 1900, dalam sehari tidak kurang dari 40 perjalanan kereta api rute Tanjung Priok–Batavia SS pp dan NISM serta Tanjung Priok–Kemayoran pp.
 
Periode kedua
Sejak akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, aktivitas di pelabuhan Tanjung Priok kian meningkat, sehingga terjadi perluasan area pelabuhannya yang mengakibatkan stasiun Tanjung Priok digusur. Untuk menggantikannya, pada tahun 1914 di sebelah Halte Sungai Lagoa dibangun stasiun baru yang lebih megah. Dalam pembangunan itu, SS menugaskan Ir. C.W. Koch sebagai arsitek utama. Stasiun baru ini, dibuka untuk umum pada 6 April 1925 yang bertepatan dengan peluncuran pertama kereta listrik rute Priok–Meester Cornelis (Jatinegara).
 
Bandar pelabuhan yang dibangun pada 1877 pada masa Gubernur Jendral Johan Wilhelm van Lansberge yang berkuasa di Hindia Belanda pada tahun 1875-1881 itu semakin mengukuhkan perannya sebagai salah satu pelabuhan paling ramai di Asia setelah dibukanya Terusan Suez.
 
Stasiun ini menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Batavia yang berada di selatan. Alasan dibangunnya stasiun pada masa lampau di Tanjung Priok karena pada saat itu sebagian besar wilayah Tanjung Priok masih berupa hutan dan rawa-rawa. Hal ini sangat berbahaya sehingga dibutuhkan transportasi yang aman ke arah Batavia.
Stasiun Tanjung Priok di periode kedua ini dibangun tepatnya pada tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916). Untuk menyelesaikan stasiun ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa. Bahkan sejak diselesaikannya stasiun ini, telah timbul protes mengenai "pemborosan" yang dilakukan dalam pembangunan stasiun ini. Dengan 8 peron, stasiun ini amatlah besar, dan nyaris sebesar Stasiun Jakarta Kota yang pada masa itu bernama Batavia Centrum.
 
Pada zaman kolonial Hindia-Belanda, di stasiun ini juga tersedia ruang penginapan sementara bagi para penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan. Kamar-kamar tersebut terletak di sayap kiri bangunan yang memang disediakan untuk penumpang.
 
Namun, kejayaan stasiun ini hanya bertahan 16 tahun saja. Pembukaan Bandara Kemayoran yang melayani penerbangan umum sejak tahun 1940 mulai menjadi saingan berat bagi stasiun ini, karena banyak penumpang yang beralih ke moda transportasi udara dalam perjalanan mereka, dari dan ke Jawa menuju Batavia.
 
Hal ini juga ditunjang dengan jauhnya letak dari stasiun yang baru dari Pelabuhan Laut Tanjung Priok, walaupun pada masa itu, para penumpang dilayani dengan bus feeder rute pelabuhan–Stasiun Tanjung Priuk pp.
 
Selain itu situasi Perang Dunia II yang meluas ke Hindia Belanda membuat perawatan stasiun menjadi terabaikan. Malah dalam masa pendudukan pemerintah militer Jepang, stasiun ini lebih diutamakan untuk kepentingan perang dan mengirim para romusha keluar Jawa.
 
Sumber: ayojakarta.com


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi