Menelusuri Jejak Legenda Jawara Betawi si Pitung dari Rumah Tinggi Si Pitung

Siapa yang tak kenal dengan legenda Betawi Si Pitung. Si Pitung adalah seorang jawara dari Betawi. Si Pitung yang mempunyai nama asli Ahmad Nitikusumah memang dikenal sebagai perampok ulung. Tak sedikit yang menjulukinya sebagai "Robin Hood" Betawi.
 
Meskipun dikenal sebagai perampok ulung, tapi Si Pitung merupakan pahlawan bagi masyarakat Betawi tapi pemberontak bagi penjajah Belanda. Ia memilih hidup sebagai perampok karena ia merasa sakit hati saat ia berusia 15 tahun. Pada saat itu hewan ternak milik orang tuanya dirampas oleh orang Belanda dan Tionghoa. Untuk membalaskan dendamnya, ia merampok orang-orang kaya dan membagikan hasil rampokannya ke orang-orang miskin.
 
Dalam catatan sejarah dari beberapa sejarawan Betawi, Si Pitung sering berpindah-pindah tempat. Dalam hidupnya, Si Pitung tidak pernah tinggal di suatu kawasan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini karena, ia selalu dikejar oleh pasukan Belanda. Salah satu tempat atau rumah yang pernah disinggahi adalah rumah tinggi yang berada di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Rumah tersebut kini dikenal sebagai Rumah Tinggi Si Pitung.
 
Dikutip dari kompas.com, beberapa orang mengira bahwa tempat yang dikenal ini sebagai Rumah Tinggi Si Pitung merupakan tempat tinggal Si Pitung. Namun rupanya rumah ini hanya sekadar rumah singgah. Rumah bergaya Bugis itu tidak pernah ditinggalkan si Pitung dalam jangka waktu yang lama.
 
Si Pitung hanya singgah ke rumah tersebut pada dekade 1890-an. Rumah itu sebenarnya dimiliki seorang juragan tambak ikan asal Bugis bernama Haji Safiudin. Singgahnya si Pitung di rumah tersebut juga belum diketahui kebenarannya secara rinci. Ada yang menyebut si Pitung sekadar bersembunyi saja dari kejaran pasukan Belanda atau merampok rumah tersebut, sampai sekarang masih menjadi misteri.
 
Pada tahun 1999, bangunan ini dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999. Rumah si Pitung menjadi ikon kisah perjuangan dan perlawanan masyarakat Betawi terhadap penjajahan Belanda.
 
Berguru Silat untuk Menjadi Perampok Ulung
Sejak harta dan ternaknya dirampas oleh Belanda dan orang Tionghoa, si Pitung kemudian berguru ke sebuah perguruan silat pimpinan Haji Naipin yang beralamat di Rawa Belong, Jakarta Barat. Perguruan itu bernama Pituan Pitulung yang disingkat menjadi Pitung. Di sanalah Ahmad Nitikusumah mendapat julukan sebagai Si Pitung. Meski dikenal sebagai perampok, Si Pitung tidak mengambil semua harta perampokan. Ia membagikan hasil rampokan yang kepada rakyat yang ditemuinya.

Versi Lain si Pitung
Sebuah buku 'Pitung Pituan Pitulung' yang ditulis oleh Iwan Mahmoed Al Fattah, disebutkan kisah legenda si Pitung bukanlah seseorang jawara, melainkan sekelompok yang beranggotakan 7 orang. Ketujuh orang ini merupakan perampok orang-orang kaya yang membagikan harta rampokannya kepada orang-orang miskin.
 
Menurut Iwan yang dikutip dari viva.co.id, penulis buku tersebut Kitab Al Fatawi yang menjadi salah satu rujukannya kelompok si Pitung diketuai oleh seseorang yang bernama Raden Muhammad Ali Nitikusuma.
 
Pitung, kata Iwan, adalah akronim dari Pituan Pitulung. Pituan artinya pendekar, sedangkan pitulung artinya penolong. Pitung merupakan kelompok orang yang berjuang melawan ketidakadilan yang terjadi di tanah Betawi.
 
"Di dalam kelompok itu memang ada yang paling menonjol, sehingga orang memahami bahwa Pitung hanya satu, Radin Muhammad Ali Nitikusuma," ujar Iwan.
 
Namun, kalangan masyarakat Betawi membantah teori ini. Masyarakat Betawi masih menganggap si Pitung merupakan seseorang jawara dan pahlawan dari tanah Betawi yang melegenda.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi