Kisah Pangeran Jayakarta dan Makamnya yang Dirahasiakan 300 Tahun

Pangeran Jayakarta

Dahulunya Jakarta adalah kota pelabuhan yang berada di wilayah Kerajaan Pajajaran bernama Sunda Kelapa. Setelah berhasil ditaklukkan oleh pasukan Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Fatahilah pada 1527, kemudian daerah Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta. Setelah berhasil ditaklukkan Demak, wilayah Jayakarta diberikan kepada wilayah bawahannya yakni Banten yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Banten.
 
Saat Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin, ia memerintahkan orang terdekatnya untuk memimpin wilayah Pelabuhan Jayakarta. Orang suruhan Sultan Maulana Hasanuddin tersebut bernama Pangeran Sungersa Jayawikarta atau dikenal dengan Pangeran Akhmad Jakerta. Setelah lama berkuasa di Jayakarta, Pengaran Akhmad Jakerta memiliki keturunan dan diberi nama Pangerna Jayakarta.
 
Pangeran Jayakarta pun menjadi pewaris tahta ayahnya menjadi penguasa wilayah Jayakarta. Namun di saat ia berkuasa, VOC sudah mulai menancapkan kekuasaannya di Nusantara, khususnya di Jayakarta.  Konflik dan perang antara Pangeran Jayakarta dengan Belanda (VOC) di Jayakarta, berlangsung antara tahun 1610-1619.
 
Pada awal kedatanganya di Jayakarta, VOC diberikan hak oleh Pangeran Jayakarta, atas tanah di sisi timur muara Sungai Ciliwung. Kemudian daerah yang sepi ini menjelma menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari berbagai daerah.
 
Konflik terjadi karena VOC menerapkan sistem monopoli perdagangan yang sangat merugikan dan menyengsarakan rakyat. Konflik yang berujung perang antara Pangeran Jayakarta dengan VOC, tidak dapat dihindari. Dengan dibantu oleh pasukan dari Banten dan Inggris, Pangeran Jayakarta berhasil mendesak pasukan Belanda, yang mengakibatkan Jenderal Pieterszoon Coen melarikan diri pergi ke Ambon untuk meminta bala bantuan.
 
Sementara itu, di Jayakarta sendiri, mulai timbul konflik, yakni antara Banten dengan Inggris yang waktu itu sudah memiliki markas di muara sisi Barat Sungai Ciliwung. Konflik Banten dengan Inggris ini akhirnya timbul perang yang berakhir dengan terusirnya Inggris dari Jayakarta.

Pangeran Jayakarta
 
Tahun 1619, Jenderal Pieterszoon Coen kembali datang ke Jayakarta, maka kembali terjadi perang sengit antara pasukan Pieterszoon Coen dengan bala bantuan dari Ambon dengan pasukan Pangeran Jayakarta. Pasukan tentara Pieterszoon Coen lebih kuat, kemudian berhasil memporak-porandakan pasukan gabungan pangeran Jayakarta dan Banten. Pasukan Banten melarikan diri ke arah Barat dan Selatan sedangkan pasukan pangeran Jayakarta melarikan diri ke arah Tenggara, yaitu daerah yang kemudian dikenal sebagai daerah Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.
 
Di Jatinegara Kaum, Pangeran Jayakarta memulai kehidupan baru bersama keluarga dan para kerabatnya. Setahun kemudian, Pangeran Jayakarta membangun sebuah masjid yang sekarang bernama Masjid As Salafiah. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan untuk menyusun strategi melawan Belanda.
 
Namun, beberapa kali Pangeran Jayakarta mencoba melakukan perlawanan terhadap VOC, namun tidak berarti karena kedudukan VOC semakin kuat. Pada tahun 1640, Pangeran Jayakarta akhirnya meninggal dimakamkan di komplek pemakaman keluarga di Jalan Jatinegara Kaum Raya no. 49, Pulo Gadung Jakarta Timur.
 
Makamnya Baru Terungkap Setelah 3 Abad


Pangeran Jayakarta_4

Meski telah dimakamkan di dekat tempat tinggalnya di Jatinegara Kaum, tapi keberadaannya tidak diketahui oleh masyarakat luas. Makam Pangeran Jayakarta baru terungkap setelah 3 abad setelah wafatnya tepatnya pada tahun 1956 bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-429 kota Jakarta. Pengungkapan makam tersebut berjarak 316 tahun atau 3 abad setelah Pangeran Jayakarta wafat.
 
Ada alasan tertentu kenapa makam Pangeran Jayakarta baru terungkap setelah Indonesia merdeka. Saat tinggal di Jatinegara Kaum, Pangeran Jayakarta melarang anak-anaknya dan kerabatnya untuk menjaga identitasnya. Hal ini agar VOC tidak mengetahui keberadaannya. Bahkan, Pangeran Jayakarta juga melarang kerabatnya untuk menikah di luar dari kalangannya. Selain itu, untuk menutupi identitasnya dari kejaran VOC, Pangeran Jayakarta dan kerabatnya tidak menggunakan Bahasa Melayu dengan warga sekitar. 
 
Ada empat makam lain yang mendampingi makam Pangeran Jayakarta. Yaitu makam Pangeran Lahut, anak dari Pangeran Jayakarta, Pangeran Soeria dan Pangeran Sageri yang merupakan keponakannya, dan Makam Ratu Rafiah, istri dari Pangeran Sageri.
 
Kini di kompleks makam Pangeran Jayakarta selain Masjid As-Salafiah yang menjadi salah satu peninggalannya, terdapat peninggalan Pangeran Jayakarta lainnya seperti tasbih Berwarna hitam, dan tombak bernama Biring Lanang (Jantan di laut) dan Biring Galih (Jantan di darat).

Tidak berjudul.png

Makam Pangeran Jayakarta, tahun 2021
Sumber: Sudinbud Jakarta Timur

2.jpg

Makam Pangeran Jayakarta tampak dari dalam, tahun 2021
Sumber: Sudinbud Jakarta Timur
 

Kepemilikan:
  • Kondisi                        : Utuh, terawat
  • Pengelola                    : H.R. Suhendar, S.Sos.
  • Asal Pemilik                : Klender, Duren Sawit
  • Alamat Pemilik           : Jl. Jatinegara Kaum No. 20
  • Pemugaran                 : 1968, 1982
  dan 21 November 1984
 
Sejarah:
  • Tahun Pembangunan : 1640
  • Periodesasi                 : Kolonial
  • Jenis                            : Makam
  • Keterangan Sejarah    :
Kompleks makam Pangeran Achmad Jayakarta, Pangeran Lahut, Pangeran Surya, Pangeran Shogeri, dan Ratu Rafi'ah.
 
Fungsi :
  • Fungsi Dulu                : Tempat ibadah
  • Fungsi Sekarang         : Tempat ibadah
 
Lokasi :
  • Provinsi                       : DKI Jakarta
  • Kab/Kota                    : Kota Adm. Jakarta Timur
  • Kecamatan                 : Duren Sawit
  • Desa/Kelurahan         : Klender


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi