Stasiun Pasar Senen: Bangunan Cagar Budaya yang Kini Jadi Salah Satu Stasiun Tersibuk di Jakarta

Stasiun Pasar Senen Tempo Dulu_1 
Stasiun Pasar Senen pada era kolonial Belanda (sumber PT KAI)
 
Stasiun Pasar Senen pertama kali diresmikan pada 31 Maret 1887 oleh perusahaan kereta api swasta Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS). Peresmian ini bersamaan dengan dibukanya jalur Batavia (Jakarta) - Bekasi. Kemudian pada tahun 1898, kepemilikan Stasiun Pasar Senen beralih menjadi milik perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia-Belanda, Staatssporwegen (SS) setelah seluruh lintas BOS dibeli oleh SS.
 
Dikutip dari situs resmi PT KAI, pada awal didirikan, bangunan Stasiun Pasar Senen bergaya Indische Empire dengan kanopi besi setengah yang menaungi dua jalur rel di bawahnya. Sejak tahun 1913, Stasiun Pasar Senen dan stasiun-stasiun besar di Jakarta mulai direnovasi besar-besaran.
 
   
Stasiun Pasar Senen Tempo Dulu_2
Stasiun Pasar Senen pada era kolonial Belanda (sumber PT KAI)
 
Bangunan utama stasiun dibongkar total dan dibangun bangunan baru yang diresmikan pada tanggal 19 Maret 1925. Bagian peronnya pun dilengkapi dengan terowongan bawah tanah untuk penyeberangan ke peron lainnya. Terowongan ini merupakan terowongan penyeberangan pertama di stasiun yang dibangun di Indonesia.
 
Media massa pada era kolonial, yakni Koran Javabode pernah menggambarkan kondisi Stasiun Pasar Senen sebagau staisun yang indah, rapi, dan kokoh dengan terowongan penyebrangan, seperti di  Stasiun Amsterdam atau Haarlem, Belanda.
 
Stasiun Pasar Senen yang melayani pemberangkatan jarak jauh dan Kereta Rangkaian Listrik (KRL) pada saat ini, ditetapkan sebagai objek cagar budaya di Kementerian.

Stasiun Pasar Senen Tempo Dulu_2
Stasiun Pasar Senen pada era kolonial Belanda (sumber PT KAI)
 
Kebudayaan dan Pariwisata berdasarkan SK Menbudpar No: PM.13/PW.007/MKP/05 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 475 Tahun 1993.
 
Kini Stasiun yang terletak di Jalan Pasar Senen No. 14, Kecamatan Senen dikelola dan dimiliki sepenuhnya oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT KAI. Kondisi Stasiun Pasar Senen kian rapi dan tertata setelah PT KAI bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Mass Rapid Transit Jakarta (Perseroda) berkolaborasi menata kawasan stasiun kereta api Pasar Senen. Penataan kawasan Stasiun Pasar Senen ini selesai dan diresmikan pada 17 Juni 2020 lalu.
 
Hasil dari penataan tersebut, kini di kawasan Stasiun Pasar Senen ada akses pejalan kaki menuju stasiun di pintu tengah atau di kawasan plaza stasiun yang merupakan area integrasi antarmoda. Perubahan jalur pejalan kaki tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi masyarakat, khususnya pelanggan kereta dari dan menuju stasiun jika ingin melanjutkan perjalanan dengan transportasi lainnya.

PT KAI mencatat jumlah penumpang KRL di Stasiun Pasar Senen mencapai 7.342 pelanggan per hari pada saat kondisi normal. Sedangkan pelanggan KA Jarak Jauh dan Lokal mencapai 16.308 pelanggan per hari, dan saat peak season 19.379 pelanggan per hari.
 

Monumen Tekad Merdeka


Di bagian Plaza Plaza Stasiun Pasar Senen atau akses pejalan kaki menuju stasiun berdiri tegak sebuah monumen yaitu Monumen Tekad Merdeka. Monumen ini dibangun untuk mengenang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di daerah Senen dan sekitarnya. Senen dan sekitarnya adalah daerah yang pernah menjadi lokasi pertempuran pejuang-pejuang Indonesia selama perjuangan fisik Jakarta, terutama setelah kapal-kapal perang Sekutu mendarat di Teluk Jakarta (29 September 1945).
 
Pembuatan patung monumen ini dilakukan di Sanggar Pucuk Citra dan diresmikan oleh Walikota Jakarta Pusat A. Munir pada tanggal 2 Mei 1982. Setelah dilakukan penataan Stasiun Pasar Senen, monumen tersebut kini dapat terlihat dengan jelas oleh masyarakat yang melintas plaza stasiun. Monumen tersebut menambah keindahan kawasan Stasiun Pasar Senen yang kini sudah tertata dengan baik.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi