Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Saksi Sejarah Detik-detik Kemerdekaan

Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan. Untuk mencapai kemerdekaan tersebut tentunya harus dilalui dengan berbagai perjuangan dari para pendiri bangsa. Salah satu momen menuju hari proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa berkumpul merumuskan sebuah naskah proklamasi.
 
Naskah proklamasi tersebut disusun oleh para pendiri bangsa di sebuah rumah di Jalan Meiji Dori (sekarang Jalan Imam Bonjol Nomor 1 Jakarta)--- dikutip dari kompas.com. Rumah itu milik petinggi militer Jepang pada saat itu, yakni Laksamana Muda Tadashi Maeda. Ia adalah Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Laksamana Maeda mengizinkan kediamannya untuk dijadikan tempat berunding para tokoh pendiri bangsa merumuskan naskah proklamasi di tanggal 16 Agustus 1945, malam hari.
 
Rumah Laksamana Maeda ini menjadi saksi bisu dan bagian dari sejarah panjang kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun, jauh sebelum ditempati oleh Maeda, bangunan bergaya arsitektur Eropa ini sudah beberapa kali berganti kepemilikan. Gedung dengan luas tanah 3.914 meter persegi dan luas bangunan 1.138 meter persegi ini dulunya dirancang sebagai bangunan “kota taman” pertama di Indonesia oleh Belanda pada tahun 1910. Gedungnya sendiri dibangun pada 1920.
 
Berdasarkan dari surat ukur No. 955 Tanggal 21 Desember 1931, pemilik dari gedung ini adalah PT Asuransi Jiwasraya yang dulu bernama Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij van 1859 (NILLMIJ). Gedung tersebut juga pernah dijadikan sebagai British Council General (Konsulat Jenderal Inggris).
 
Pada tahun 1947, gedung ini berubah fungsi menjadi kediaman resmi Duta Besar Kerajaan Inggris. Terjadinya aksi nasionalisasi terhadap bangsa asing ini membuat pemerintah berniat untuk mengambil alih gedung tersebut. Gedung ini kemudian diserahkan kepada Departemen Keuangan dan dikelola oleh PT. Asuransi Jiwasraya.
 
Pada 1961, gedung ini kemudian dikontrak oleh Kedutaan Inggris selama 20 tahun, sampai tahun 1981. Sebenarnya, sejak tahun 1976, Indonesia sudah berusaha untuk menjadikan gedung tersebut sebagai gedung monumen bersejarah. Pada tanggal 25 November 1980, diadakan rapat Koordinasi Bidang Kesra Departemen Dalam Negeri dan Pemda DKI Jakarta. Hasil dari rapat tersebut memutuskan bahwa gedung ini akan dijadikan Monumen Sejarah Indonesia. Keputusan ini juga didukung dan diterima oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian disahkan pada tanggal 28 Desember 1981.
 
Dalam beberapa waktu, gedung ini dikelola lebih dulu oleh Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta. Lalu, pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Nugroho Notosusanto memberikan perintah kepada Direktur Permuseuman untuk segera merealisasi gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Sampai akhirnya pada 26 Maret 1987, gedung ini diberikan kepada Direktorat Permuseuman dan dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
 
Ruangan di Museum Proklamasi
 
Di dalam Museum Proklamasi ini terdapat empat ruangan.
 
Ruang Pertama
 
Ruang ini menjadi tempat peristiwa bersejarah pertama dalam persiapan Perumusan Naskah Proklamasi Indonesia. Ruangan ini dijadikan sebagai ruang tamu sekaligus kantor oleh Maeda. Selain itu, di dalam ruangan ini juga akan dipaparkan suasana menjelang proklamasi, seperti proses pembentukan PPKI dan BPUPKI, bom Hiroshima-Nagasaki, dan lainnya.
 
Ruang Kedua
 
Ruangan kedua menjadi tempat Soekarno-Hatta mengadakan rapat bersama di meja bundar dengan pengurus lain seperti B.M. Diah. Di ruangan ini juga naskah proklamasi yang asli ditulis tangan oleh Soekarno dengan judul “Proklamasi”. Selain itu, di ruangan kedua ini juga akan diperlihatkan sewaktu Soekarno mengumandangkan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur.
 
Ruang Ketiga
 
Ruang selanjutnya, terdapat sebuah piano yang menjadi tempat di mana Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi Indonesia. Kejadian lain yang juga terjadi di ruang ketiga adalah Soekarno membacakan naskah proklamasi di depan rumahnya. Gambaran suasana pergolakan saat mempertahankan kemerdekaan juga akan ditampilkan di ruangan ini.
 
Ruang Keempat
 
Ruangan terakhir adalah ruang pameran benda-benda yang pernah dikenakan oleh para tokoh yang hadir saat perumusan naskah proklamasi. Benda-benda tersebut adalah jam tangan, pulpen, sampai pakaian. Di ruangan keempat ini juga Sayuti Melik dan B.M. Diah mengetikkan naskah proklamasi Indonesia.
 
Saat ini Museum Perumusan Naskah Proklamasi dijadikan cagar budaya dan dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi