Museum Bahari: Pernah Menjadi Pusat Pergudangan Rempah-rempah Nusantara

Museum Bahari_1
Museum Bahari/Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI
Wilayah Jakarta Utara merupakan tempat pertama kali peradaban Jakarta dibangun. Setelah bangunan museum Menara Syahbandar, bangunan di sebelahnya adalah Museum Bahari. Museum yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan nomor 1 Sunda Kelapa, Jakarta Utara ini memiliki sejarah perjalanan panjang.
 
Dikutip dari kompas.com, bagian tertua dari dari museum ini mulai dibangun pada 1652 semasa akhir kepemimpinan Gubernur Jendral Christoffel van Swoll. Gedung ini memiliki beberapa bangunan yang didirikan secara bertahap. Gedung A selesai pada tahun 1719, Gedung B tahun 1774, dan Gedung C tahun 1773. Kemudian gedung ini disahkan sebagai museum pada 7 juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.
 
Di zaman VOC bangunannya itu sempat dijadikan gudang rempah. Pada zaman itu, merupakan komoditas yang sangat berharga seperti kopi, lada, teh, biji pala tersimpan di gedung ini. Selain itu sisi barat Museum Bahari dulunya dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat, juga kerap digunakan untuk penyimpanan sejumlah komoditas berharga yang dijual di Nusantara. Seperti tembaga, timah hingga tekstil milik VOC.
 
Belanda menyimpan pasokan tembaga dan timah di antara komplek gudang dan tembok kota di depan museum. Pelindung kayu yang sangat tebal dipasang di depan gudang untuk melindungi logam yang disimpan dari air hujan, badai laut tropis dan serangga seperti rayap.
Museum Bahari_2
Museum Bahari/Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI 
Pada saat pasukan Jepang mulai menguasai, gedung ini beralih fungsi menjadi gudang logistik tentara Jepang seperti perlengkapan senjata dan bahan pangan.  Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, komplek gudang digunakan untuk PLN dan PTT. Pada tahun 1976, komplek gudang ini dinyatakan sebagai properti budaya. Satu tahun berikutnya, tanggal 7 Juli 1977, bangunan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta di era Soeharto, Gubernur Ali Sadikin, menjadi museum yang menyimpan bukti-bukti sejarah maritim di Indonesia.
 
Bangunan Museum Bahari atau Museum Kebaharian dan Menara Syahbandar ini punya nilai sejarah yang sangat penting, karena merupakan salah satu peninggalan tertua zaman Belanda dulu.  Banyak sekali kelebihan museum ini yang tercatat dalam sejarah di antaranya menjadi tembok warisan VOC terakhir di Nusantara. Juga ragam koleksinya yang paling lengkap soal kemaritiman dari Sabang sampai Merauke.
Museum Bahari_3 Museum Bahari/Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI
Dikutip dari GNFI, ada yang unik dari pintu bangunan museum ini, yakni pintunya berbentuk setengah lingkaran. Bukan tanpa sebab, pada zaman dahulu bangunan tersebut adalah gedung untuk menyimpan rempah-rempah oleh VOC. Jika saat ini suatu bangunan dihitung pajaknya berdasarkan luas bangunan, pada zaman tersebut, pajak bangunan dihitung dari besar kecilnya pintu bangunan. Itulah cara yang dilakukan VOC agar tidak terlalu rugi dalam melakukan pembayaran pajak bangunan.
 
Selain pintu, bangunan ini juga dihiasi oleh banyak jendela pada sisi kanan dan kiri dengan tujuan untuk menjaga kelembapan dan keawetan, serta keluar masuknya sirkulasi udara agar rempah-rempah yang ada dapat terjaga dengan baik.
 
Tidak hanya itu, bangunan yang dulunya sebagai gudang rempah-rempah VOC ini juga memiliki langit-langit bangunan dengan tiang penyangga yang terbuat dari kayu tebal, sehingga tidak mudah lapuk. Bahkan hingga kini, kayu tebal tersebut masih terjaga dengan baik keasliannya.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi