Menara Syahbandar: Peradaban Jakarta Bermula dari Sini

Museum Syahbandar
Museum Menara Syahbandar/Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI Jakarta
Dahulunya Jakarta bernama Batavia, kota yang menjadi pusat perdagangan dengan pelabuhan tersibuk di kawasan Nusantara pada masanya. Maka dari itu VOC sebagai penguasa Batavia pada masa itu membangun sebuah menara pemantau yang terletak di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, tepatnya di Jalan Pakin. Menara itu kini disebut dengan Museum Menara Syahbandar.
Museum Menara Syahbandar, Credit: Adh Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI Jakarta
 
Dikutip dari berbagai sumber, Menara Syahbandar ini dahulunya selain merupakan menara pemantau juga menjadi kantor pabean yang berarti tempat pengumpulan pajak atas barang-barang hasil bongkaran di pelabuhan Sunda Kelapa. Menara tersebut memiliki tinggi 12 meter dengan ukuran 4 x 8 meter. Ada tiga lantai yang dapat dikunjungi. Masih di kawasan Museum Menara Syahbandar ada prasasti tugu nol kilometer Jakarta yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1977. Meski saat ini titik nol kilometer Jakarta sudah dipindahkan ke kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Museum Syahbandra_3
Tugu Nol Kilometer/Adhi Muhammad Daryono/Disbud DKI Jakarta 
Menara ini dibangun di atas tanah rawa dan berada di pinggir jalan raya yang sering dilalui kendaraan berat, maka seiring berjalannya waktu posisi menara ini menjadi miring. Saat ini bangunan Menara Syahbandar difungsikan sebagai museum. Di dalamnya terdapat berbagai macam barang-barang peninggalan zaman Belanda. Seperti aneka jenis lampu mercusuar, dan benda-benda yang berkaitan dengan pelayaran pada zaman dulu.
 
Di lantai dasar bangunan ini terdapat prasasti dengan tulisan Tionghoa berbunyi Garis Bujur Nol Batavia. Asal garis ini berdasarkan jawatan survey. Di lantai dasar dahulu kabarnya digunakan sebagai tempat mengurung awak kapal yang melanggar aturan pelabuhan. Jika kita naik ke puncak Menara Syahbandar, disarankan secara bergantian karena kondisi bangunan yang sudah tua dan kemiringan tangga naiknya hampir tegak lurus.
 
Pada awal masa dibangun, menara Syahbandar dulunya memiliki tinggi menara sekitar 40 meter. Kemudian pada tahun 1839 didirikan menara baru sebagai pengganti menara yang lama. Menara ini kemudian direnovasi bersamaan dengan pemugaran bangunan gudang-gudang yang dijadikan Museum Bahari. Sebelum dipugar, menara ini juga pernah dijadikan Kantor Komando Sektor Kepolisian (Komseko). Bahkan ruang bawah tanah atau bunker di bawah Menara Syahbandar pernah dijadikan sebagai penjara di awal kemerdekaan.
 Museum Syahbandar_1
Museum Menara Syahbandar/Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI Jakarta
Tingkat paling atas menara ini berupa ruang pengamatan berbentuk loteng dengan empat jendela besar yang terbuka lebar. Dari atas sini kita bisa melihat pemandangan Galangan Kapal VOC, kampung akuarium, pasar ikan sampai Pelabuhan Sunda Kelapa.
Di samping itu terdapat tujuh meriam tembak peninggalan VOC yang menghadap ke arah tertentu. Kabarnya meriam dipasang untuk menghalau musuh. Secara keseluruhan arsitektur bangunan ini masih dipertahankan menyerupai bentuk aslinya. Jadi ini adalah bangunan bersejarah yang sudah masuk cagar budaya.
 


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi