Melihat Sejarah dan Arsitektur Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota.jpg
Stasiun Jakarta Kota, credit: Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI
 
Stasiun Jakarta Kota merupakan cagar budaya yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta. Stasiun ini juga dikenal dengan sebutan Stasiun BEOS atau Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Saat ini pengelola dan kepemilikan Stasiun Jakarta Kota ada di tangan PT KAI (persero)
 
Dikutip dari halaman resmi PT KAI, Stasiun Jakarta Kota mempunyai 12 jalur kereta api. Setiap harinya stasiun Jakarta Kota dipenuhi dengan calon penumpang kereta api yang didominasi oleh pengguna Commuter Line relasi Jakarta Kota – Bogor dan Jakarta Kota Bekasi.
 
Stasiun Jakarta Kota juga merupakan stasiun type Terminus, yang artinya merupakan stasiun akhir dan tidak mempunyai kelanjutan jalur rel kereta api. Di sebelah timur stasiun jakarta kota, terdapat Dipo Kereta yang digunakan untuk menyimpan dan melakukan perawatan kereta api jarak jauh misalnya Kereta api Bima, Kereta api Gayabaru Malam Selatan, kereta api Taksaka, dan lain sebagainya.
 
Sejarah Stasiun
Stasiun Jakarta Kota tempo dulu/ PT KAI
 
Pada masa penjajahan Belanda, nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul pada akhir abad ke -19, karena Batavia memiliki stasiun kereta api Batavia Noord (Batavia Utara yang yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang).
 
Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Netherland Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan merupakan terminal untuk jalur Batavia- Buitenzorg (Jakarta – Bogor), yang pada tahun 1913 jalur Batavia – Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staats Spoorwegen (SS).
 
Batavia Zuid (Batavia Selatan), awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada zaman Hindia Belanda tahun 1926 – 1931.

Arsitektur Bangunan
Pembangunan Stasiun Jakarta Kota diarsiteki oleh arsitek Belanda kelahiran Tulungagung yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Gaya arsitektur yang diterapkan di Stasiun Jakarta ini merupakan perpaduan antara struktur teknik modern barat dengan bentuk tradisional setempat atau yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen.
 
Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan. Siluet stasiun Jakarta Kota dapat dirasakan melalui komposisi unit-unit massa dengan ketinggian dan bentuk atap berbeda.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi