Gedung Kantor Berita Antara: Tempat Tersebarnya Berita Proklamasi ke Seluruh Dunia



Gedung Kantor Berita Antara di Pasar Baru, Jakarta Pusat merupakan tempat berita proklamasi kemerdekaan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Gedung ini pada masa era pemerintahan kolonial Belanda adalah gedung kantor berita Hindia Belanda bernama Algemeen Niews en Telegraaf Agentschaap (ANETA).
 
Bangunan Gedung Kantor Berita Antara adalah gedung dengan arsitektur bernuansa kolonial, memiliki tiga lantai yang dilengkapi jam dan alat penangkal petir. Pintu bagian depan memiliki lebar dua meter, yang terbuat dari jeruji besi lengkap dengan gemboknya. Di lantai bawah gedung terdapat tangga dari beton dengan pegangan terbuat dari kayu dan besi, sedangkan anak tangga dilapisi ubin keramik berwarna coklat muda.


Era Kolonial Hindia Belanda

Seorang wartawan pada masa kolonial Hindia Belanda, Dominique Willem Beretty mendirikan kantor Berita ANETA pada 1 April 1917. Kemudian ANETA menempati lokasi gedung di kawasan Pasar Baru. Setelah itu, pada tahun 1919, Dominique Willem mengakuisisi dua perusahaan penerbit koran pesaingnya, yakni Nederlandsch Indisch Pers Agentschap (NIPA) dan Reuters Batavia sehingga melakukan monopoli terhadap bisnis media pada saat itu dan mampu membuka biro perwakilan di beberapa kota utama Hindia Belanda. Dominique Willem Beretty menjadi direktur ANETA dan menjadi orang terkaya di Hindia Belanda pada saat itu.
 

Era Penjajahan Jepang

Ketika Jepang berkuasa pada tahun 1942, gedung ini pun tetap memiliki fungsi yang sama yakni sebagai kantor berita. Hanya saja perusahaan kantor berita yang menempati gedung ini milik Jepang yakni kantor berita Domei.
 

Masa Proklamasi Kemerdekaan

Di masa proklamasi kemerdekaan ini, kantor berita Domei yang masih dikuasai Jepang memiliki peran penting dalam tersebarnya berita kemerdekaan. Pada saat itu Adam Malik yang merupakan redaktur tetap di kantor Berita Domei menyampaikan pesan kepada petugas kantor berita Dome Asa Bafagih, agar menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan. Kemudian perintah itu diteruskan ke Pangulu Lubis yang menyebarkan berita Proklamasi melalui radio dengan menyelipkannya dalam morse-cast Domei di antara berita-berita lain yang telah distempel izin Hodokan (lembaga sensor Jepang).
 
Dua orang petugas yakni Markonis Soegiri dan Markonis Wua, mengawasi tersiarnya berita Proklamasi yang terselip di antara berita-berita lainnya dapat terlaksana, sehingga berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kemudian dapat menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, dan dengan cepat menyebar ke Amerika Serikat, India, dan Australia.
 
Jenderal Yamamoto, pemimpin tentara Jepang di Indonesia, ketika itu melarang Kantor Berita Jepang, Domei, yang berlokasi di Gedung Antara, untuk tidak menyiarkan berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Perintah yang sama juga ditujukan kepada Harian Asia Raya. Namun, wartawan Kantor Berita Domei bernama Syahruddin menyerahkan teks Proklamasi untuk disiarkan stasiun Radio Domei.
 
Kemudian kepala bagian radio bernama Waidan B Palenewan memerintahkan seorang Markonis bernama F Wuz untuk menyiarkan berita Proklamasi disiarkan sebanyak tiga kali, namun baru dua kali ketahuan oleh tentara Jepang. Akibat jasa mereka, berita Proklamasi bisa diteruskan ke luar negeri, bahkan wartawan S.K. Trimurti menjelaskan bahwa pada 18 Agustus 1945, sebuah kantor berita di San Francisco telah menyiarkan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia. Jepang kemudian menyegel kantor berita Domei pada 20 Agustus 1945.
 
Pasca Kemerdekaan
Tahun 1961, Gedung Antara kembali dipergunakan oleh Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Bangunan Gedung Antara pada era Kemerdekaan dipergunakan sebagai tempat Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara di mana bagian belakangnya digunakan sebagai percetakan Antara untuk keperluan internal. Gedung Antara Pasar Baru saat ini menjadi Kantor Biro Foto Antara dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, lokasi terpopuler yang sering menjadi tempat pameran foto di Jakarta.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi