Gedung Candra Naya: Rumah Kuno yang Berdiri di Tengah Megahnya Bangunan Mal dan Apartemen

Gedung Candranaya_1
Gedung Candra Naya, Credit: Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI
Di kawasan Glodok, Jakarta Barat terkenal sebagai kawasan pecinan atau China Town di Jakarta. Nuansa budaya Tionghoa di sana masih sangat kental. Meski sudah banyak bangunan-banguna tinggi dan mal-mal, bangunan kuno dengan gaya arsitektur Tionghoa klasik masih bisa ditemukan. Salah satu bangunan Tionghoa klasik adalah Gedung Candra Naya. Gedung ini terletak di antara bangunan apartemen yang berada di sekelilingnya di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat. Penampakan tersebut tampak tak lazim dengan daerah sekitarnya.
 
Dari informasi yang tertera di gedung tersebut, Gedung Candra Naya dulunya merupakan rumah seorang mayor Tionghoa di Batavia. Ia adalah Mayor Khouw Kim An yang lahir pada 5 Juni 1879 di Batavia. Khouw merupakan menantu Poa Keng Hek, pendiri organisasi Tionghoa modern pertama di Hindia Belanda, Tiong Hwa Hwe Kwan.

Gedung Candranaya_2
Gedung Candra Naya, Credit: Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI
 
Ia diberi pangkat mayor oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mewakili etnis Tionghoa di pemerintahan. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Letnan, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.
 
Dikutip dari kompas.com, Mayor Khouw Kim An menjadi seorang kaya raya setelah diangkat oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Ia memiliki kekayaan yang berlimpah, ia pun punya gerai toko beras dan bank pada masanya, istrinya pun ada 14 orang dengan 24 anak. Bangunan Gedung Candra Naya saat ini hanyalah sepertiga dari luas asli rumah Mayor Khouw dahulu.

Mayor Khouw Kim
Mayor Khouw Kim An. Sumber: kompas.com 

Bahkan setelah tidak ditempati oleh Mayor Khouw, bangunan ini sempat tidak terawat. Konon katanya sempat ada cerita rumah ini akan dihancurkan lalu dibuatkan ulang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namun, banyak memprotes sebab jika dipindahkan ke TMII maka nilai sejarahnya akan hilang. Gedung Candra Naya ini bukan sekedar kediaman keluarga Khouw. Rumah ini merekam jejak sejarah Tionghoa di tanah air.
Gedung Candranaya_3Gedung Candra Naya, Credit: Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI
 
Saat masa penjajahan Jepang, gedung Candra Naya sempat menjadi kantor Sing Ming Hui, perkumpulan orang Tionghoa dengan tujuan sosial. Organisasi inilah yang menjadi pencetus pendirian Universitas Tarumanagara di Jakarta. Bahkan, Gedung Candra Naya ini sempat menjadi lokasi kuliah mahasiswa Universitas Tarumanagara dan menjadi tempat penyelenggaraan pertandingan bulu tangkis internasional pertama di Indonesia yakni, Indonesia Open.
Gedung Candranaya_4Gedung Candra Naya, Credit: Adhi Muhammad Daryono/Dinas Kebudayaan DKI
Di era Presiden Soeharto, seluruh nama yang berbau Tionghoa harus diganti menjadi nama Indonesia. Maka dari itu gedung yang tadinya bernama Sin Ming Hui berubah menjadi Candra Naya. Saat ini Candra Naya termasuk dalam komplek hunian superblok PT Modernland Realty Tbk. Namun, Candra Naya berada di bawah supervisi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dan menjadi salah satu objek cagar budaya di Jakarta.


QUOTES

“Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.”
- Ali Sadikin -
Gubernur DKI Jakarta 1966 - 1977
“Emang rejeki kagak kemane, tapi kalo lo gak kemane-mane mana mau dapet rejeki.”
- H. Benyamin Sueb -
Seniman Betawi