Berita

Museum Seni Rupa dan Keramik: Sejarah, Harga Tiket, Koleksi, dan Tips Wisata

Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik berlokasi dalam Kawasan Kota Tua Jakarta tepatnya di Jalan Pos Kota No. 2, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat. Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki luas bangunan 2430 m2 dan dibangun di atas tanah seluas 9320 m2. Gedung museum dibangun dari tahun 1866 hingga 1870 oleh arsitek yang bernama Jhe W.H.F.H. Van Raders dengan gaya arsitektur Eropa Empire atau biasa dikenal dengan Neo Classic. Ciri khas bangunan dengan gaya tersebut pada bagian atas depan berbentuk segitiga, sedangkan bagian teras depan terdapat pilar atau doria. Pada awal dibangun, gedung Museum Seni Rupa dan Keramik berfungsi sebagai Raad van Justitie Binnen Het Casteel Batavia atau Kantor Dewan Keadilan Batavia yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieter Miyer pada tanggal 21 Januari 1870. Kemudian sejak masa pendudukan Jepang hingga masa Revolusi Fisik (1945-1949), gedung tersebut dimanfaatkan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) sebagai asrama anggota Nederlandse Militaire Missie (NMM) atau Misi Militer Hindia Belanda. Pada masa kedaulatan Republik Indonesia, gedung diserahkan kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan digunakan sebagai gudang logistik.

Setelah itu, pada tahun 1970 sampai dengan 1973 gedung Museum Seni Rupa dan Keramik digunakan sebagai Kantor Walikota Jakarta Barat, yang kemudian pada tahun 1974 direnovasi lalu dialihfungsikan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Berdasarkan gagasan Wakil Presiden Adam Malik, gedung tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Balai Seni Rupa pada tanggal 20 Agustus 1976, lalu pada 10 Juni 1977 bagian sayap depan gedung ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin sebagai Museum Keramik. Pada awal tahun 1990, Balai Seni Rupa digabung dengan Museum Keramik menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

Saat ini Museum Seni Rupa dan Keramik berada di bawah pengelolaan Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Jenis Koleksi yang dimiliki Museum Seni Rupa dan Keramik terdiri dari sketsa, lukisan, dan patung/totem dari berbagai daerah di Indonesia serta keramik dari dalam dan luar negeri.

Tentang Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik buka pada hari Selasa hingga minggu pada pukul 09.00 s/d 15.00 WIB. Perlu diingat, bahwa Museum Seni Rupa dan Keramik tutup pada hari Senin. Harga tiket masuk di Museum Seni Rupa dan Keramik dibagi menjadi beberapa kategori, yakni:

  • Dewasa Rp. 5.000,-
  • Mahasiswa Rp. 3.000,-
  • Anak-anak/Pelajar Rp. 2.000,-

Apabila bersama rombongan dengan minimal 30 orang, harga tiket masuk Museum Seni Rupa dan Keramik berbeda, yakni:

  • Dewasa Rp. 3.750,-
  • Mahasiswa Rp. 2.250,-
  • Anak-anak/Pelajar Rp. 1.500,-

Saat ini, Museum Seni Rupa dan Keramik sudah dapat melakukan pembayaran tunai dan non tunai.

Museum Seni Rupa dan Keramik menyediakan berbagai fasilitas yang memadai untuk pengunjung. Berikut adalah fasilitas di Museum Seni Rupa dan Keramik yang bisa digunakan untuk umum: 

  • Ruang tata pamer
  • Aula
  • Ruang Kesehatan & Laktasi
  • Ruang bermain anak
  • Mushola
  • Taman
  • Toilet
  • Ramp

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki 460 koleksi seni rupa dan 12.000 keramik. Berikut adalah beberapa koleksi masterpiece  yang dimiliki Museum Seni Rupa dan Keramik:

  1. Lukisan Prambanan/Seko karya S. Sudjojono

Lukisan ini dibuat pada tahun 1949 beraliran realisme pada masa yang merekam suasana usai agresi militer ke-2 pada tahun 1949. Lukisan ini menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan, dan telah memperoleh rekomendasi dari tim ahli Cagar Budaya sesuai dengan Berita Acara Rekomendasi Nomor 172/TACB/Tap/Jakbar/XI/2021 tanggal 24 November 2021. Berdasarkan SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 367 Tahun 2022 Tentang Penepatan Lukisan Prambanan karya S.Sudjojono, lukisan ini resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya tingkat Provinsi DKI Jakarta.

  1. Lukisan Dewi karya Agus Djaya

Lukisan ini dibuat pada tahun 1962 mewakili gaya seni lukis modern Indonesia tahun 1950-an yang mengungkap tradisi mitologi jawa melalui karya seni lukis. Lukisan ini memberikan pesan tentang pelestarian tradisi mitologi jawa yang merupakan salah satu unsur kepribadian bangsa Indonesia yang telah memperoleh rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya sesuai dengan Berita Acara Rekomendasi Nomor 176/TACB/Tap/Jakbar/I/2002 tanggal 5 Januari 2022. Berdasarkan SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 366 Tahun 2022 Tentang Penetapan Lukisan Dewi Karya Agus Djaya, lukisan ini resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya tingkat Provinsi DKI Jakarta.

  1. Lukisan Bupati Cianjur karya Raden Saleh Sjarif Boestaman

Lukisan ini dibuat pada tahun 1852 dengan aliran realisme romantisme yang berkembang pada masanya. Lukisan ini menggambarkan kesejarahan tokoh-tokoh Bupati di Jawa Barat serta memiliki nilai budaya sebagai bagian perkembangan seni lukis modern di Indonesia yang telah memperoleh rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya sesuai dengan Berita Acara Rekomendasi Nomor 174/TACB/Tap/Jakbar/I/2021 tanggal 15 Desember 2021. Berdasarkan SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 334 Tahun 2022 Tentang Penetapan Lukisan Bupati Cianjur karya Raden Saleh Sjarif Boestaman, lukisan ini resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya tingkat Provinsi DKI Jakarta.

  1. Lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan

Lukisan ini dibuat tahun 1956 beraliran realisme yang merekam kehidupan sosial masyarakat dan para pejuang pada masa perang revolusi kemerdekaan tahun 1945-1949. Lukisan ini menyampaikan pesan tentang tekad pelestarian tradisi di tengah-tengah suasana perang revolusi kemerdekaan dan telah memperoleh rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya sesuai dengan Berita Acara Rekomendasi Nomor 175/TACB/Tap/Jakbar/XII/2021 tanggal 15 Desember 2021. Berdasarkan SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 333 Tahun 2022 Tentang Penetapan Lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan, lukisan ini resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya tingkat Provinsi DKI Jakarta.

  1. Teko (Ewer) Song Utara abad 10 M

Leher tegak pendek dengan bagian tepian mulut dibuat melebar mirip terompet. Badan bulat berbentuk labu dengan goresan dan tekanan sehingga menghasilkan badan berlekuk-lekuk cembung. Cucuk menghadap ke atas agak melengkung, pegangan menempel dari bagian leher dan bahu, dan bagian kaki memiliki diameter cukup lebar. Seluruh permukaan hingga kaki diglasir kecuali pada bagian dasar teko. Pada bagian bawah tepian terdapat tiga garis melingkar dengan teknik gores dan bagian leher bawah terdapat lingkaran yang dihasilkan dengan cara yang sama.

  1. Guci (Jar) Dinasti Tang abad 9-10 M

Leher berbentuk tegak lurus dengan tepian yang tidak rata. Bentuk badan bulat lonjong agak menggelembung di bagian bahu. Pada bagian bahu terdapat empat cupingan dengan posisi horizontal. Guci tidak memiliki kaki. Seluruh permukaan hingga badan guci diglasir, sedangkan bagian bawah badan dan dasar tidak diglasir.

Pilihan Transportasi Menuju Museum Seni Rupa dan Keramik

Bagi kamu yang akan berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik, berikut adalah pilihan transportasi yang dapat digunakan:

  • Stasiun KRL 

Jika kalian menggunakan kereta, turun di stasiun Jakarta Kota dan keluar melalui pintu exit kota tua dan museum fatahilah. setelah menyebrang, kalian hanya perlu berjalan lurus hingga sampai di Museum Seni Rupa dan Keramik!

  • Kendaraan Pribadi

Jika kalian membawa kendaraan pribadi, kalian bisa parkir di Jalan Lada Dalam. Setelahnya, jika kalian menyebrang kalian akan menemukan papan informasi yang mengarahkan kalian untuk berjalan lurus dan belok kanan hingga sampai di Museum Seni Rupa dan Kramik. Jika membawa mobil, pastikan tanggal ganjil genap ya!

  • Transjakarta

Jika kalian menggunakan transportasi umum TransJakarta, kalian perlu turun di halte Kota. setelah sampai di halte, kalian perlu menyebrang dan berjalan lurus hingga sampai di Museum Seni Rupa dan Kramik. Selain halte Kota, bisa juga turun di halte Museum Fatahillah kemudian menyebrang melewati Taman Fatahillah.

Tips Wisata ke Museum Seni Rupa dan Keramik

Wisata ke Jakarta tak lengkap rasanya tanpa berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik. Nah, ada beberapa tips jika kamu ingin berkunjung. Mari simak bersama, yuk.

  1. Pilih tanggal berkunjung kecuali hari Senin

Berkunjung ke Museum Seni Rupa Keramik saat akhir pekan dapat menjadi pilihan ketika bersama keluarga. Namun, jangan sampai kamu datang ketika hari Senin. Pasalnya, museum yang menjadi tempat wisata di Jakarta selalu tutup pada hari Senin. Jangan lupa untuk datang pada jam operasional, ya. 

  1. Jangan Pegang Koleksi 

Koleksi di Museum Seni Rupa dan Keramik sudah berumur ratusan tahun dan di preservasi dengan baik dan pengelolaan rutin. Ketika melihat koleksi, seringkali muncul rasa penasaran dan ingin menyentuhnya. Namun, perlu diketahui bahwa tangan manusia mengandung bakteri yang dapat merusak benda-benda bersejarah ini. Yuk, mari rawat bersama aset bersejarah milik negara. 

  1. Tidak melewati garis pembatas berwarna merah

Dalam ruang koleksi lukisan terdapat garis berwarna merah untuk menjadi batas pengunjung ketika melihat koleksi. Hal ini perlu diperhatikan karena dapat mengurangi kemungkinan lukisan tersenggol atau tersentuh oleh pengunjung. Jadi, perhatikan garis merah yang ada di lantai, ya.

  1. Tidak makan dan minum di ruang koleksi

Makanan dan Minuman yang dikonsumsi di ruang koleksi berpotensi tumpah dan mengotori ruang koleksi bahkan merusak koleksi. Jadi, simpan makanan dan minuman kalian selama di ruang koleksi ya! Kalian bisa mengkonsumsi makanan dan minuman kalian di area taman museum.

  1. Tidak berlari-larian atau bercanda berlebihan di ruang koleksi 

Ruang koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik memberikan kemudahan bagi pengunjung untuk melihat dan menikmati koleksi dengan maksimal hingga diperlukannya kesadaran tiap pengunjung untuk menjaga sikap untuk mengurangi kemungkinan kemungkinan buruk yang terjadi.

  1. Membawa kipas portable

Sebenarnya, ruang koleksi difasilitasi dengan AC yang cukup memadai, namun, kalian tetap disarankan membawa kipas portable mengingat begitu cerahnya cuaca di Kota Tua agar ketika kalian berada di luar ruang koleksi seperti taman, kalian tidak merasa terlalu panas.

  1. Penginapan Terdekat

Apabila kamu berkunjung dari luar pulau Jawa, kamu bisa menginap di hotel terdekat atau sewa apartemen di Jakarta. Tersedia juga beberapa hostel di sekitar kawasan Kota Tua yang bisa kamu pilih seperti:

  1. Mercure Jakarta Batavia
  2. Bobobox Kota Tua
  3. Hotel DeQur Jakarta Kota
  4. Favehotel LTC Glodok
  5. The Jayakarta Jakarta Hotel
  6. Novotel Jakarta Gajah Mada